Abdul Latif al-Baghdad: Dari Arkeologi Hingga Autopsi

Ilmuwan Muslim.

Egyptology, Karya Abdul Latif ini merupakan karyanya paling awal

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA — Abdul Latif sangat peduli pada arti monumen-monumen kuno. Ia memuji para pemimpin Muslim yang melestarikan dan melindungi artefak dan monumen pra Islam. Ia menyatakan, pelestarian tersebut memberikan sejumlah keuntungan bagi umat Muslim.

Monumen berguna sebagai bukti untuk mengetahui babakan sejarah. Ia juga mengatakan, monumen serta peninggalan kuno memberikan bukti bagi kebenaran Alquran sebab kitab ini juga berkisah tentang mereka. Peninggalan kuno, jelas Abdul Latif, sebagai pengingat peradaban manusia dan nasib manusia akibat sesuatu yang mereka lakukan.

Pun, menunjukkan bentuk gelar, politik, dan sejarah para leluhur, meng ukur nilai kekayaan, ketinggian ilmu, serta pemikiran mereka. Saat berbicara tentang profesi pemburu harta karun, ia mencatat bahwa para pem buru harta karun itu adalah orang-orang miskin bernyali besar, yang sering disponsori oleh para pengusaha kaya untuk pergi melakukan ekspedisi arkeologi.

Dalam beberapa kasus, sebuah ekspedisi bisa berubah menjadi penipuan, di mana para pemburu harta karun tersebut menghilang dengan sejumlah uang yang diberikan oleh orang kaya yang mensponsori upaya pencarian harta karun tersebut. Praktik penipuan ini terus berlanjut sampai sekarang, di mana pengusaha kaya di Mesir banyak yang ditipu oleh pemburu harta karun setempat.

Egyptology

Karya Abdul Latif ini merupakan karya paling awal dalam bidang ini. Dalam karyanya, ia menggambarkan secara jelas tentang terjadinya bencana kelaparan selama tinggal di Mesir. Bencana ini akibat terjadinya gagal panen.

Saat itu, air Sungai Nil meluap ke ladang-ladang para petani. Dalam karyanya ini, ia juga memberikan gambaran yang terperinci mengenai monumen-monumen Mesir kuno.

Autopsi

Selama terjadi bencana kelaparan di Me sir pada 1200 M, Abdul Latif berkesempatan mengobservasi dan memeriksa se jum lah besar kerangka manusia yang me ninggal akibat kelaparan. Ini merupakan langkah pa ling awal dalam bidang autopsi posmortem.

Melalui kegiatan tersebut, ia menyimpulkan bahwa pendapat Aelius Galenus atau Cladius Galenus yang sering dipanggil Galen, dokter dan filsuf Roma asal Yunani, soal pembentukan tulang rahang bawah dan tulang pinggul, salah.

Sejumlah manuskrip Arab yang ditulis Abdul Latif itu ditemukan pada 1665 oleh seorang orientalis, Edward Pococke, dan disimpan di Bodleian Library, perpusta kaan riset utama Oxford University, Ing gris.

Pococke kemudian menerbitkan manuskrip itu pada 1680-an. Putranya, Edward Pococke the Younger, menerjemahkannya ke dalam bahasa Latin. Thomas Hunt berupaya menerbitkan terjemahan Pococke pada 1746, namun gagal. Akhirnya, hasil terjemahan Pococke itu berhasil diterbitkan oleh Professor Joseph White dari Oxford pada 1800. Lalu, diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis disertai sejumlah catatan oleh Silvestre de Sacy pada 1810.

Artikel ini telah tayang di republika.co.id/

Related Posts