Bahaya Anak Gunakan Gawai tanpa Pendampingan

Anak kecanduan gadget. Ilustrasi

Pada akhirnya anak hanya akan jadi korban bila gunakan gawai tanpa pendampingan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pendiri Yayasan Semai Jiwa Amini (SEJIWA), Diena Haryana, menyebut adanya isu yang mengemuka di ranah daring terkait dengan asusila, seperti pornografi serta eksploitasi seksual terhadap anak. Temuan di lapangan menunjukkan, isu tersebut telah berdampak terhadap anak-anak sebagai korban.

“Pada Oktober 2019, Sulawesi Utara, 5 pasangan anak berusia 7 tahun, melakukan hubungan seksual bersama-sama, karena mereka mengikuti apa yang mereka lihat pada gadget mereka,” kata Diena saat mengisi kegiatan Sarasehan “Advokasi Mengenai Perlindungan Anak di Ranah Online”, di Ruang Serbaguna Kemenkominfo, Rabu (9/10).

Ia menjelaskan, penggunaan gawai tanpa pendampingan di usia dini bisa jadi sumber permasalahan. Pembiaran banyak terjadi karena orangtua tidak menyadari adanya konten-konten negatif di ranah daring.

“Minimnya pendampingan anak dari orangtuanya di ranah daring, di mana orangtua justru memberikan gadget pada anak-anaknya agar mereka tidak mengganggu, atau agar mereka diam tenang,” katanya.

Diena menambahkan, solusi dari kerentanan anak di ranah daring ini adalah di tangan

keluarga. Ia menyebut perlunya pendampingan orangtua terhadap anak ketika mereka ada di ranah daring, serta kedekatan keluarga yang membuat anak tidak perlu mencari pelarian di internet.

“Jangan terjadi pembiaran anak di internet. Dan bebaskan ruang tidur dari penggunaan gadget, sehingga istirahat anak cukup, dan anak dapat termonitor dengan baik bila menggunakan gadget di ruang yang lebih terbuka,” katanya

Sementara itu, Praktisi Teknologi Digital, Tony Seno mengatakan, anak-anak generasi Z

beradaptasi dengan teknologi digital jauh lebih cepat dari orangtuanya. Namun, ia menyebut mereka tetap anak-anak yang belum memiliki pengalaman hidup yang cukup, sehingga mereka sangat rentan terhadap kejahatan-kejahatan di internet.

“Adalah merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai orangtua, pemerintah, bisnis ataupun lembaga non-profit untuk saling bekerjasama melindungi anak-anak ini, sampai anak ini cukup dewasa untuk bisa membedakan yang baik dan buruk di dunia digital,” kata Tony.

Dirjen Paud Dikmas Kemendikbud, Harris Iskandar menyebut, peran keluarga semakin penting. Terlebih lagi karena waktu kebersamaan antara orang tua dan anak di rumah kian berkurang, tergantikan oleh kehadiran teknologi informasi.

“Keluarga merupakan salah satu pilar dalam tri sentra pendidikan (rumah, sekolah dan masyarakat) yang berperan penting dalam membentuk generasi emas yang berkarakter dan berbudaya prestasi di masa yang akan datang,” katanya.

Selain itu, ia menambahkan, dengan semakin tingginya kesibukan orang tua, anak-anak semakin kurang mendapat perhatian. Terutama dari figur ayah.

Artikel ini telah tayang di republika.co.id

Related Posts