Must Read

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...

Pertengkaran hebat di depan anak disebut lebih buruk daripada bercerai dengan damai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Setiap anak berharap memiliki orang tua utuh dan hidup bahagia. Sayangnya, tidak semua anak beruntung mendapatkanya dan harus merasakan perceraian orang tua.

Akan tetapi kini penelitian psikologis telah menyimpulkan bahwa perselisihan orang tua yang hebat jauh lebih berbahaya bagi anak-anak bila dibandingkan dengan perpisahan yang damai. Penelitian ini telah dilakukan dalam konteks budaya barat.

Dilansir laman Indian Express, Selasa (13/01), hasil negatif terlihat ketika anak-anak tidak menyukai orangtua yang lain, anak-anak membutuhkan rasa cinta dan rasa aman dari kedua orang tua apakah mereka bersama atau berpisah.

Jika perpisahan itu damai dan ditangani secara matang oleh orang tua, dampak negatifnya dapat dikelola.

Anak-anak membutuhkan pengaturan hidup yang jelas dan konsisten, batas-batas dan kontak dengan kedua orang tua.

“Dalam praktiknya, kita melihat bahwa perceraian biasanya tidak ditangani dengan baik dan ada banyak hal negatif di antara orang tua mengenai ketentuan perceraian, campur tangan kerabat. Sejauh mungkin, anak-anak harus dijauhkan dari masalah-masalah negatif ini,” kata Psikiater & Kepala, Mpower – The Centre, Bengaluru.

Perceraian biasanya merupakan masa yang sulit bagi orang tua dan mereka harus mempertimbangkan mencari bantuan profesional jika mereka berjuang secara emosional. Kecuali jika orangtua berada di tempat yang sehat secara mental, kemungkinannya adalah proses perceraian dan kehidupan setelah perceraian tidak ditangani dengan cara yang matang serta masuk akal.

Konsekuensinya bisa menghancurkan anak-anak, mulai dari kesulitan stress ringan hingga penyakit depresi penuh. Anak-anak tertarik pada penurunan fungsi sosial dan akademik jika ada kesulitan emosional yang parah dan persisten.

Untuk mendapatkan perspektif tentang statistik, satu dari dua pernikahan di Amerika berakhir dengan perceraian dan setiap anak ketiga di Inggris dibesarkan oleh orang tua tunggal. Mayoritas anak-anak ini bekerja dengan baik secara psikologis, ketika faktor-faktor yang mempengaruhi hasil psikologis jangka panjang dipelajari.

Artikel ini telah tayang di republika.co.id

- Advertisement -
- Advertisement -

Latest News

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...

Ibu Cristiano Ronaldo Kabarnya Dilarikan ke RS Akibat Stroke

Madeira - Kabar kurang menyenangkan datang dari Cristiano...

Ancaman Stigmatisasi di Balik Penyebaran Data Pribadi Pasien Corona

Jakarta - Identitas baik nama, foto maupun alamat lengkap dua pasien yang disebut positif terinfeksi...

Alasan Klopp Tak Mengamuk Ketika Liverpool Kalah

Jakarta, CNN Indonesia -- Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, mengungkapkan alasan tidak selalu marah apalagi mengamuk ketika timnya menderita kekalahan. Klopp yakin para pemainnya bisa kembali tampil...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -