oleh

Berkenalan dengan Hastu Wijayasri, Developer Tunarungu – VIVA

-Tekno-5 views

VIVA – Setiap orang ingin terlahir menjadi sosok yang sempurna. Namun takdir memiliki aturan main sendiri. Manusia tak bisa meminta akan dilahirkan oleh siapa dan dalam keadaan bagaimana, termasuk tak dapat menolak bila dianugerahi kekurangan fisik.

Namun, sejarah telah mencatat, sederet orang yang berhasil mencapai puncak keberhasilan di tengah keterbatasan. Tokoh dan ilmuwan Stephen Hawking, salah satu contohnya. Karena mengidap penyakit saraf, profesor kelahiran 8 Januari 1942 itu, harus melewatkan sepanjang waktunya di atas kursi roda.

Hawking bahkan tak mampu makan dan bangun tidur sendiri. Akan tetapi, keadaan itu tak menghalanginya untuk menghasilkan karya yang menjadi rujukan di bidang sains hingga kini.

Di Indonesia sendiri tak kekurangan sosok inspiratif yang mampu berprestasi dengan melawan keterbatasan. Sosok perempuan muda Angkie Yudistia, misalnya.

Angkie menjadi seorang penulis buku dan CEO Thisable Enterprise, organisasi bagi penyandang disabilitas untuk mendapat pelatihan keterampilan agar bisa bersaing di dunia kerja. Judul buku yang Angkie terbitkan, yaitu ‘Perempuan Tunarungu Menembus Batas’ dan ‘Setinggi Langit’. Ia juga pernah menjadi finalis Abang None Jakarta pada 2008.

Satu lagi sosok generasi muda Indonesia yang berjuang dalam keterbatasan. Namanya Hastu Wijayasri. Gadis asal Yogyakarta, kelahiran 5 Februari 1998 ini mendalami dunia teknologi agar bisa menghasilkan karya yang bermanfaat bagi banyak orang.

Disabilitas tunarungu yang dialami Hastu, justru memotivasinya untuk memantabkan niat menjadi seorang developer. Bersama kakak tingkatnya di jurusan Teknik Informatika UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Tesya Nurintan, Hastu mengembangkan aplikasi bernama ‘Sukacare’ untuk membantu difabel lainnya.

Hastu dan Tesya.

Saat ditemui di acara Google Developer Showcase 2018, di Jakarta 6 Desember 2018, Hastu menceritakan untuk menyelam ke dunia developer ini bukan tanpa kesulitan. “Sebelum masuk, aku enggak ngerti apa-apa, ini benar-benar nol. Karena aku punya tujuan, jadi aku harus mencari cara bagaimana agar bisa bergabung di situ,” katanya menggunakan bahasa isyarat.

“Aku ingin mencari pengetahuan dan hal yang baru, mencoba cari pengalaman yang lain, mencari tujuan masa depanku seperti apa,” tambahnya.  

Tantangan lainnya, dari segi penerimaan materi. Sebagai tunarungu, Hastu memiliki pola komunikasi tersendiri. Namun, dalam tim yang salah satunya ada Tesya, mereka bisa berkomunikasi dengan membaca bibir, bahasa isyarat, dan melihat kalimat di Notepad.

Kini Hastu dapat membangun splash screen, mengubah warna dan font di Android Studio, serta berhubungan dengan pengaturan xml. Ia juga sedang mengikuti beasiswa Android Academy dari Dicoding untuk kelas MADE (Menjadi Ahli Pengembang Android).

Karena bakatnya di bidang teknologi, Hastu berkesempatan dikirim ke California untuk mengikuti kursus singkat dari Google. Baik Hastu maupun Tesya, keduanya tergabung dalam program pelatihan developer – Developer Student Clubs- yang diselenggarakan oleh Google Indonesia.

Ditanya mengenai cita-cita dan harapan di masa depan, Hastu mengatakan ingin menjadi wirausaha atau developer agar dapat membantu difabel lain.

“Aku ingin menjadi entrepeneur karena ingin membantu orang-orang difabel untuk bekerja. Sekarang aku punya cita-cita baru menjadi developer jadi agar bisa membantu orang lain. Aku tak ingin ada anak-anak difabel yang menganggur,” katanya.

Artikel ini telah tayang di Viva.co.id

Komentar

News Feed