Bolt Juara Olimpiade dengan Tali Sepatu Terlepas

Jakarta, CNN Indonesia — Kesempurnaan menjadi hal yang mutlak bagi para atlet yang tampil di Olimpiade. Namun, tampaknya hal itu tidak berlaku bagi pelari Jamaika, Usain Bolt.

Bolt pernah mengalami mencapai garis finis dengan tali sepatu yang terlepas saat meraih medali emas 100 meter di Olimpiade 2008 di Beijing, China. Dalam balap lari itu, ia menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 9,69 detik.

Sebelum Bolt, banyak juga pelari yang sukses meraih medali emas di nomor 100 meter Olimpiade. Akan tetapi, mungkin hanya Bolt yang meraih medali tersebut dengan santai atau seakan-akan menjadi sangat mudah.

Kurang lebih 20 meter menjelang finis, Bolt menepuk dada dengan tangan kanannya. Ia kemudian melakukan selebrasi singkat sebelum garis finis dengan membentangkan kedua tangan ke samping, menurunkan sedikit kecepatan berlari karena tahu pasti menjadi juara.

Para atlet dari cabang olahraga manapun, tentu diminta untuk tetap rendah hati ketika berhasil tampil dengan baik. Namun Bolt adalah Bolt, seorang atlet normal yang berusaha bersuka cita dengan caranya sendiri.

Mantan atlet lari asal Trinidad dan Tobago, Ato Jabari Boldon, memaklumi perilaku Bolt dalam Olimpiade 2008. Sebagai sesama pelari, walau beda generasi, Boldon mengerti perasaan Bolt saat itu.




Tali sepatu Usain Bolt secara tidak sengaja terlepas saat perlombaan berlangsung. (AFP PHOTO / GABRIEL BOUYS)



“Itulah Bolt, bukan begitu? Bajunya tidak dimasukkan ketika berlari, tali sepatu lepas, dan dia bersenang-senang sebelum balapan berakhir,” kata Boldon seperti yang dikutip dari situs Olympic Channel.

Meski begitu, perilaku Bolt ketika balapan di nomor 100 meter tersebut mendapat dikritik dari pelatih maupun pemerhati olahraga. Meskipun, sebagian orang menganggap aksi Bolt bisa menjadi pengingat dari peristiwa bersejarah tersebut.

Dilansir dari Heraldsun.com, para pemerhati olahraga percaya Bolt bisa mencatat waktu lebih cepat hingga 9,55 detik bila balap lari dengan lebih serius saat itu. Pelatih sprint nasional Australia, Paul Hallam, setuju dengan peneliti-peneliti dari University of Oslo, Norwegia.

“Dia bisa mencatat 9,55 detik. Tidak ada keraguan dalam pikiran saya, dia bisa melakukan itu,” ujar Hallam.




Usain Bolt mematahkan prediksi para ahli saat meraih emas di Kejuaraan Dunia 2009. (AFP PHOTO / Adrian DENNIS)



Fenomena yang diciptakan Bolt membuat sejumlah pihak tertarik melakukan penelitian terhadap mantan atlet kelahiran Sherwood Content itu. Salah satunya Profesor dari Institute of Theoretical Astrophysics, Hans Eriksen.

Eriksen dan beberapa kolega dia di institut tersebut meneliti rekaman televisi dari lomba lari Bolt di Olimpiade 2008. Mereka juga mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti posisi Bolt, kecepatan, dan akselerasi.

Eriksen pun membandingkan penampilan Bolt dengan peraih medali perak asal Trinidad dan Tobago, Richard Thompson. Ia kemudian mempublikasikan studi dia terhadap Bolt ke dalam sebuah jurnal Amerika.

“Kami telah melakukan yang terbaik yang kami bisa,” ucap Eriksen.







Performa apik Bolt tidak berhenti di Olimpiade 2008 di Beijing. Setahun kemudian Bolt memecahkan rekornya sendiri saat tampil di Kejuaraan Dunia Atletik 2009 di Berlin.

Di Berlin, Bolt mencatat 9,58 detik dalam nomor lari 100 meter. Catatan tersebut menjadikan dia sebagai manusia tercepat di dunia hingga saat ini.

Menurut laporan The Guardian, rekor yang dipatahkan Bolt di Kejuaraan Dunia Atletik 2009 mematahkan prediksi sejumlah ahli.

Usai catatan 9,69 detik di Olimpiade 2008 para ahli sempat memprediksi tidak akan ada yang bisa mengalahkan rekor tersebut hingga 2030.

Prediksi tersebut mereka klaim didasari perhitungan yang akurat sebelumnya. Tapi pada kenyataannya, Bolt membuat kemajuan lebih cepat di nomor 100 meter selama hampir 100 tahun. (map)

Artikel ini telah tayang di CNN Indonesia

Related Posts