Capres Diminta Bicara Perlindungan TKI dan Posisi RI di Indo-Pasifik

Capres Diminta Bicara Perlindungan TKI dan Posisi RI di Indo-Pasifik





Jakarta
Debat ke-4 pilpres 2019 yang mempertemukan capres Joko Widodo (Jokowi) dengan Prabowo Subianto bakal mengangkat tema, salah satunya, hubungan internasional. Kedua capres dinilai wajib membahas sejumlah isu seperti Indo-Pasifik hingga perlindungan buruh migran atau tenaga kerja Indonesia (TKI).

“Saya pikir sekarang lagi ramai isunya tentang Indo-Pasifik ya. Bagaimana Indonesia memainkan peran di Indo-Pasifik itu ya, memanfaatkannya, apakah ini ancaman atau peluang bagi Indonesia gitu ya, saya kira debat tentang posisi Indonesia terkait konstelasi politik dunia itu penting untuk dibicarakan,” kata Ketua Program Studi Pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Asra Virgianita Ph.D, saat dihubungi, Sabtu (30/3/2019).

Dia mengatakan para capres harus membahas bagaimana Indonesia bisa memainkan peran sebagai negara berkembang. Peranan itu, kata Asra, bisa dilakukan Indonesia saat berada di antara negara-negara maju, maupun sesama negara berkembang.


“Bagaimana kita melihat kaitan kerja sama ekonomi kita di dunia internasional dan terkait juga dengan isu-isu pembangunan karena kita juga masih terus berkutat di isu pembangunan sebagai negara berkembang. Kita masih bicara fokus infrastruktur, pembangunan infrastruktur, seperti itu sehingga debat-debat yang lebih konkret untuk dibicarakan bagaimana tentang pendanaan pembangunan, bagaimana posisi kita sekarang di dinamika Indo-Pasifik, secara posisi kita middle power sekarang ya disebutnya, bagaimana kita memainkan peran sebagai middle power baik di antara negara maju dan negara berkembang lainnya,” ucapnya.

Selanjutnya, isu perlindungan buruh migran asal Indonesia atau TKI juga harus dibahas secara konkret dalam debat pilpre ke-4 ini. Menurutnya, kedua capres harus memberi solusi agar tenaga kerja yang pergi ke luar negeri bukan tenaga kerja tanpa skill (unskill).

“Itu isu penting saya kira. Bagaimanapun dua-duanya harus memperlihatkan bagaimana strategi kita melindungi tenaga kerja kita ke depan. Itu sudah masuk di dalam RPJM kita di 2020-2024, banyak FGD tentang itu. Mau nggak mau kita termasuk negara yang kirimkan tenaga kerja migran. Harus jelas seperti apa kita memberi perlindungan, bagaimana ini dinegosiasikan dengan negara penerima. Kita harus lebih berani ya, karena bagaimanapun ada saling ketergantungan jika bicara tenaga kerja migran,” jelasnya.

Menurutnya, kedua capres harus berupaya menghilangkan image kalau Indonesia mengirimkan tenaga kerja tanpa skill. Hal ini dinilainya harus jadi komitmen keduanya.

“Sebisa mungkin tenaga kerja harus skill ya, kita harus bangun image, pelan-pelan menghilangkan image kita di luar kita ini pengirim tenaga kerja rendah ya, unskill labour. Ini agak mengganggu juga dari sisi image. Rencana penting juga bagaimana membuat SDM kita punya skill lebih,” jelasnya.

Terakhir, soal isu Palestina. Dia memprediksi sikap kedua capres bakal sama di isu ini, yaitu mendukung kemerdekaan Palestina.

“Posisi kita sudah jelas di situ. Menurut saya, dua-dua calon akan bilang memberi dukungan. Bicara posisi dua-duanya akan sama. Paling penegasan saja, dan konkretnya saja yang akan ditanyakan bentuk dukungan apa untuk Palestina,” ucapnya.

(haf/fdn)





Artikel ini telah tayang di detikNews

Related Posts