Cara Berkomunikasi dan Membimbing Anak dengan Autisme

Ada kiat-kiat khusus untuk berkomunikasi dan membimbing anak dengan autisme

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR — Memiliki anak-anak berkebutuhan khusus seperti autisme memang tidak mudah. Henny Ma’rifah dari Divisi Pengembangan Anak Spesial Rumah Autis memiliki kiat-kiat khusus agar orang tua maupun orang-orang di lingkungan sekitar bisa berkomunikasi dan membimbing mereka.

Pertama, Henny mengatakan orang tua anak penyandang autisme harus diberikan edukasi. Sebab, tidak semua orang tua menerima anaknya memang membutuhkan bantuan lebih.

“Jadi kami buat orang tua menerima terlebih dulu, kami pahamkan anaknya memerlukan bantuan,” ujar Henny saat ditemui di Gunung Putri, Kabupaten Bogor, beberapa waktu lalu .

Biasanya Rumah Autis memberikan tugas untuk mereka. Contohnya, berjalan keliling kompleks rumah selama setengah jam setiap hari, mandi sendiri, mengenakan baju sendiri tanpa bantuan, dan lain sebagainya.

Kedua, tidak berbicara terlalu panjang. Jika orang tua tidak mengizinkan, mereka bisa mengucapkan kalimat sederhana ‘tidak boleh’. Jika masih belum paham, orang tua bisa mengisyaratkan dengan kontak fisik, yakni menarik tangan mereka dengan perlahan.

“Jadi benar-benar dibantu secara fisik dan bicara,” katanya.

Ketiga, usahakan tidak menempatkan anak penyandang autisme di tempat yang gaduh supaya mereka bisa tetap berkonsentrasi. Sebab, ada juga anak penyandang autisme yang memiliki masalah dengan rentang atensi dan konsentrasi.

Keempat, orang tua harus memperhatikan pencahayan. “Ada anak yang sensitif dengan cahaya, keramaian. Kondisinya kita buat senyaman mungkin, setenang mungkin agar bisa berinteraksi dengan mereka,” ujar Henny.

Rumah Autis telah aktif membina anak-anak berkebutuhan khusus sejak Desember 2004. Saat ini mereka memiliki 220 anak berkebutuhan khusus yang tersebar di tujuh cabang di Jabodetabek dan Karawang.

Henny Ma’rifah mengungkapkan anak-anak berkebutuhan khusus paling banyak saat ini di Rumah Autis adalah penyandang autisme dan intellectual disability. Ada juga sebagian kecil anak penyandang Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Ada 16 sampai 20 anak berkebutuhan khusus dan lima guru yang berada di Rumah Autis cabang Gunung Putri. Henny mengatakan ada beberapa anak yang memang sudah diobservasi, tetapi belum dipanggil.

Ini karena Rumah Autis cabang Gunung Putri masih menunggu jadwal guru yang bisa membimbing anak-anak berkebutuhan khusus tersebut. Henny mengakui mereka kekurangan tenaga pengajar anak berkebutuhan khusus.

Artikel ini telah tayang di republika.co.id

Related Posts