Cashless Marak, Philadelphia Justru Wajibkan Terima Tunai

Cashless Marak, Philadelphia Justru Wajibkan Terima Tunai

Wali Kota Philadelphia ingin pebisnis tak melulu cashless dan menolak uang tunai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pada era saat ini, banyak transaksi pembayaran telah menggunakan uang elektronik. Kebiasaan cashless atau tanpa uang tunai itu tengah digiatkan di banyak kota di dunia.

Dengan semakin maraknya masyarakat yang membayar dengan menggunakan metode pembayaran digital maupun kartu kredit, kemungkinan uang tunai tak akan berlaku lagi di masa depan. Namun, tampaknya Wali Kota Philadelphia di Amerika Serikat, Jim Kenney, tak setuju dengan gagasan tersebut.

Dia telah menandatangani sebuah Rencana Undang-undang (RUU) yang mengharuskan toko menerima uang tunai, pada 27 Februari waktu setempat, dilansir di Mashable Selasa (12/3). Peraturan yang mulai berlaku 1 Juli mendatang merupakan bentuk inovasi bagi sebuah kota besar di AS.

Untuk pertama kalinya, sebuah pemerintahan di AS mengkodifikasi sebuah persyaratan bagi sebagian besar bisnis untuk menerima uang tunai. Kenney berupaya untuk melawan kepindahan ke toko-toko yang memberlakukan pembayaran tanpa uang tunai.

Kebiasaan itu, menurut kritikus, merupakan pelanggaran privasi dan bentuk diskriminasi terhadap orang miskin dan yang tidak memiliki rekening bank.

“Sebagian besar orang yang tidak memiliki kartu kredit cenderung berpenghasilan rendah, minoritas, atau imigran. Menurut saya, setidaknya itu suatu bentuk diskriminasi,” kata anggota Dewan Kota Philadelphia William Greenlee kepada Wall Street Journal.

Greenlee bukan satu-satunya yang terganggu oleh gaya hidup tanpa uang tunai. Seperti dilaporkan New York Times, pemerintah New Jersey, New York, San Francisco, Chicago, dan Washington semuanya memperdebatkan peraturan serupa.

Juru bicara Walikota Kenney mengatakan kepada Wall Street Journal bahwa 26 persen penduduk Philadelphia berada di bawah garis kemiskinan. Banyak dari mereka tidak memiliki rekening bank.

Langkah bisnis menjauh dari uang tunai memang telah dicontohkan oleh orang-orang kelas atas. Mereka sedang mencoba eksperimen pelarangan tunai mulai bulan ini.

Tentunya, kebijakan seperti itu mendatangkan keberuntungan bagi perusahaan kartu kredit yang haus data. Juru bicara Andy Gerlt mengatakan kepada Associated Press pada 2017, Visa melangkah lebih jauh dengan menyatakan “perang terhadap uang tunai”.

Di zaman pengawasan kapitalisme dan pencurian data tanpa henti, kebiasaan tanpa uang tunai ini seharusnya membuat masyarakat khawatir. Sebab, setiap transaksi yang dibuat masyarakat akan direkam dan dikirim ke beberapa pihak ketiga.

Catatan itu akan hidup selamanya. Suatu ketika, rekaman pembelanjaan akan melangkah kepada tahapan ketika setiap pembelian dapat dipertanyakan.

Memiliki opsi untuk membayar tunai memungkinkan orang untuk menghabiskan uang mereka seperti yang mereka inginkan. Membayar tunai membuat orang terhindar dari rasa takut yang sangat nyata bahwa pembelian mereka akan terlacak oleh pihak ketiga.

Artikel ini telah tayang di republika.co.id