Must Read

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...

Kesepian buruk bagi kesehatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Orang kesepian biasanya dikaitkan dengan kesendirian. Ada yang menganggap dirinya kesepian jika tidak punya pasangan, teman, atau keluarga.

Bukti-bukti menunjukkan kesepian tidak hanya buruk bagi kesehatan, tetapi juga hal lainnya. Saat para ilmuwan masih mencari tahu penyebab kesepian, sebuah studi baru mengungkapkan kesepian bisa terasa memuncak di usia tertentu.

Sebelumnya pernah ada penelitian tentang kelompok umur mana yang paling rentan terhadap kesepian, namun menunjukkan hasil yang agak bertentangan. Meski demikian, ahli saraf geriatri Dilip Jeste dari UC San Diego dan timnya berhipotesis orang tua mungkin lebih rentan terhadap perasaan kesepian, dengan alasan orang tua cenderung menghabiskan lebih banyak waktu sendirian. Tetapi ketika mereka menganalisis penilaian kesehatan psikologis untuk 340 warga San Diego County berusia antara 27 dan 101 tahun, hasilnya menunjukkan hal lain.

Sebelumnya, kesepian diteliti memuncak untuk orang-orang di usia 80-an. Namun, itu bukan satu-satunya lonjakan data. Kesepian yang akut ternyata dirasakan orang yang berusia 20-an akhir, sementara puncak lainnya muncul pada pertengahan 50-an.

Data tersebut tidak dapat memberi tahu dengan tepat mengapa usia itu merasakan kesepian. Para peneliti berspekulasi lonjakan perasaan kesepian ini berpusat di sekitar tantangan dan tekanan yang umumnya bertepatan dengan usia ini.

“Usia 20-an sering kali merupakan periode pengambilan keputusan besar, yang sering membuat stres karena Anda sering merasa rekan kerja Anda membuat keputusan yang lebih baik daripada yang Anda lakukan, dan ada banyak kesalahan tentang mengapa Anda melakukan ini atau melakukan itu,” kata Jeste kepada CNN.

Sebaliknya, pertengahan 50-an adalah periode krisis paruh baya yang biasanya diperumit oleh tantangan kesehatan yang dapat membawa kesadaran yang lebih besar akan kematian. Kemudian, begitu orang mencapai usia akhir 80-an, beban psikologis semacam ini dapat mencapai puncak baru (atau lebih tepatnya titik rendah baru, secara emosional), dengan meningkatnya kelemahan fisik, kondisi seperti demensia, dan kematian pasangan serta teman.

“Ini mungkin yang paling dimengerti dari tiga periode,” kata Jeste.

Dari identifikasi yang dilakukan, hal paling mengejutkan tim adalah prevalensi kesepian di semua kelompok umur. Menurut para peneliti, perkiraan prevalensi yang dilaporkan sebelumnya di populasi umum Amerika Serikat (AS) telah mencapai paling tinggi 57 persen dan terendah 17 persen.

Jeste dan tim menemukan lebih dari tiga perempat (76 persen) mereka mengalami tingkat kesepian tingkat sedang hingga tinggi, per skala standar yang mereka gunakan untuk menilai orang .

“Ini patut diperhatikan karena peserta dalam penelitian ini tidak dianggap berisiko tinggi untuk kesepian sedang hingga berat,” ujar Jeste.

Peserta yang diteliti tidak memiliki gangguan fisik yang besar. Mereka juga tidak menderita penyakit mental yang signifikan seperti depresi atau skizofrenia. Peserta pada umumnya adalah orang-orang biasa.

Artikel ini telah tayang di republika.co.id

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...

Ibu Cristiano Ronaldo Kabarnya Dilarikan ke RS Akibat Stroke

Madeira - Kabar kurang menyenangkan datang dari Cristiano...

Ancaman Stigmatisasi di Balik Penyebaran Data Pribadi Pasien Corona

Jakarta - Identitas baik nama, foto maupun alamat lengkap dua pasien yang disebut positif terinfeksi...

Alasan Klopp Tak Mengamuk Ketika Liverpool Kalah

Jakarta, CNN Indonesia -- Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, mengungkapkan alasan tidak selalu marah apalagi mengamuk ketika timnya menderita kekalahan. Klopp yakin para pemainnya bisa kembali tampil...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -