Facebook Lagi Mepet-mepet Netflix dan Amazon, Ada Apa Ya?

Facebook Lagi Mepet-mepet Netflix dan Amazon, Ada Apa Ya?

Raksasa teknologi Facebook dikabarkan telah mendekati Netflix, Disney, dan perusahaan media lainnya untuk memasukan layanan streaming masing-masing mereka ke dalam perangkat baru Facebook yang diberi nama Catalina.

Berdasarkan The Information, Kamis (1/8/2019), selain Netflix dan Disney, perusahaan yang didirikan Mark Zuckerberg ini telah lebih dulu mendekati Hulu, HBO, dan Amazon.

Catalina yang berfungsi untuk membuat panggilan video dari televisi akan dirilis oleh Facebook pada musim gugur tahun ini.

Perangkat tersebut akan menggunakan teknologi panggilan video yang juga digunakan oleh perangkat percakapan video portal.

Selain itu, Catalina juga akan dilengkapi dengan remote dan layanan streaming video ke perangkat lainnya serupa Apple TV.

Sebelumnya, salah satu anak usaha Facebook, WhatsApp, mengumumkan akan meluncurkan layanan pembayaran dalam aplikasi akhir 2019.

Layanan ini akan diluncurkan lebih dulu di India. Uji coba layanan pembayaran berbasis UPI (Unified Payments Interface) seperti Google Pay dan PayTM, masih berlangsung. Melansir ZDNet, layanan baru ini untuk memudahkan transaksi seseorang, seperti mengirim pesan.

Menurutnya, layanan pembayaran Whatsapp sangat penting untuk mempercepat inklusi keuangan dan membawa jutaan orang ke dalam ekonomi digital India yang saat ini tumbuh signifikan.

“Kami tidak sabar untuk memberikan layanan ini kepada pengguna kami di seluruh India tahun ini,” ujar Will Cathcart, Kepala Global WhatsApp, baru-baru ini.

Whatsapp sendiri saat ini memiliki lebih dari 1,5 miliar pengguna aktif harian dan lebih dari 400 juta pengguna bulanan di India.

Peluncuran fitur pembayaran WhatsApp ini diumumkan ketika perusahaan induknya, Facebook, tengah menghadapi pengawasan dari anggota parlemen di seluruh dunia atas rencananya terjun ke sektor jasa keuangan melalui cryptocurrency bernama Libra.

Anggota Parlemen AS telah menyatakan bahwa upaya Facebook memasuki layanan keuangan itu bermasalah karena gagal menjaga data konsumen, terutama setelah mencuat isu bahwa jaringan sosial tersebut mengizinkan lebih dari 50 juta data penggunanya dipanen oleh Cambridge Analytica.

Artikel ini telah tayang di Viva.co.id

Related Posts