Jack Ma Beri Wejangan Agar Karyawan Sering Bercinta

Jack Ma Beri Wejangan Agar Karyawan Sering Bercinta

Jack Ma meminta karyawannya menerapkan prinsip 669 di rumah tangganya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kalimat Jack Ma, pendiri Alibaba yang menyarankan para karyawannya agar sering bercinta menghebohkan jagat media sosial. Kalimat Jack Ma yang mengundang perhatian ini disampaikannya saat pernikahan massal karyawan Alibaba dalam acara yang juga bertajuk Ali Day, 10 Mei lalu di kantor pusat perusahaan di Hangzhou.

Dikutip laman Indian Express, dalam pidatonya, Jack menyarankan para karyawan diminta sering bercinta. Semangat itu diharapkan diteruskan dengan semangat bekerja.

Salah satu orang terkaya Cina itu menyarankan enam kali hubungan suami istri selama enam hari dengan durasi menjadi kuncinya. Lama durasi itu diisyaratkan Jack dengan angka sembilan yang artinya panjang.

“Seks selama enam hari, enam kali. Kuncinya durasi atau 669,” ungkap Jack.

Sama seperri saat karyawan bekerja, mereka harus mematuhi aturan 996 (jam 9 pagi sampai jam 9 malam, enam hari seminggu di tempat kerja). Maka dari itu untuk kehidupan bercinta, karyawan perku menerapkan “669”.

Kutipan “669” dari pria berusia 54 tahun itu pun mendapat ragam komentar, termasuk kritikan. Sebagian warganet menganggap pidatonya tidak bertanggung jawab untuk anak di bawah umur. Sebagian lagi mengira motivasi Jack adalah untuk kembali meningkatkan populasi Cina yang terus menurun, kendati jumlah manusia masih relatif tinggi dibandingkan negara lain.

Pada 2016, Cina melonggarkan kebijakan satu anak untuk mencoba dan mengimbangi populasi yang menua dengan cepat. Tetapi negara ini menghadapi penurunan cukup drastis begitu populasinya diperkirakan akan mencapai 1,44 miliar pada 2028.

Kalimat Jack juga diunggah di halaman resmi Alibaba di Weibo dengan emoji yang berkedip. “Siapa yang punya energi untuk melakukan 669 di rumah setelah 996 selama bekerja?” kata salah satu warganet.

Dalam pidatonya, Jack menyampaikan kalimat bahwa memiliki anak adalah investasi yang lebih baik karena investasi lain sebenarnya palsu semata. Hanya memiliki anak adalah investasi yang nyata. Tujuan menikah juga bukan untuk investasi properti, membeli mobil, melainkan memiliki anak bersama. “Jadi, punya anak lagi,” katanya.

Artikel ini telah tayang di republika.co.id