Kampus Didorong Aktif Terlibat Proses Politik di Indonesia

0
4 views
Kampus Didorong Aktif Terlibat Proses Politik di Indonesia




Jakarta
Akademisi dinilai masih kurang terlibat dalam proses politik di Indonesia. Peneliti Populi Center Afrimadona mengatakan politik dan kampus tidak bisa dipisahkan.

“Politik dan dunia kampus idealnya tidak bisa dipisahkan. Kalau dipisahkan kita (politikus) tidak akan memahami apa yang terjadi di dalam (kampus),” kata Afrimadona dalam diskusi ‘Kampus dan Politik’ di kawasan The Atjeh Connection, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (12/1/2019).

Hal yang sama juga disampaikan peneliti LIPI Sri Nuryanti. Dia mengatakan peran akademisi dalam proses politik di Indonesia kurang terlihat. Namun, dia menilai akademisi masih banyak menyumbang kajian-kajian secara tertulis dalam proses politik di Indonesia.


“Memang dengan hiruk pikuk pilpres ini, terkait forum rektor dan akademisi memang tidak kelihatan. Tapi kalau dilihat dari artikel dan diskusi di kampus dan beberapa tempat, saya pikir banyak juga rekan-rekan yang masih melakukan fungsinya,” sebut Nuryanti.

Sementara itu, Koordinator Juru Bicara BPN Prabowo Subianto-Sandiaga Ini, Dahnil Anzar Simanjuntak, mendorong kampus dilibatkan dalam debat Pilpres. Dia menilai ada cara untuk lebih melibatkan akademisi dalam politik di Indonesia.

“Kami sempat mengusulkan debat kandidat di kampus saja. Tapi dibilang nggak boleh di kampus. Kampus saya maksud bukan fisik, kalau nggak di kampus, kan bisa di luar kampus,” jelas Dahnil.

Dahnil mengatakan ada usulan dari Sandiaga untuk tidak melibatkan pendukung pasangan calon dalam debat. Dia meminta debat diisi akademisi dan pemilih yang belum menentukan pilihan saja.

“Bahkan Pak Sandi bilang, kalau bisa debat nggak perlu dihadiri pendukung. Kalau perlu swing voter, akademisi, itu yang saya hendak,” sebut Dahnil.

Senada dengan Dahnil, Juri Bicara pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Zuhairi Misrawi, mengatakan kampus harus dilibatkan untuk menguji program-program dari masing-masing pasangan calon. Kajian dari akademisi bisa digunakan warga untuk melihat kualitas calonnya.

“Kampus di-challenge, kalau dari kalangan kampus bisa menguji, apa capaian apa yang sudah dilakukan. Apa yang belum dilakukan, kan bisa dibaca,” terang Zuhairi.

(fdu/aan)


Artikel ini telah tayang di detikNews

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here