Kecelakaan Wahana Israel di Bulan, Ungkap Fakta Baru Satelit Bumi

0
7
Tangkapan layar permukaan Bulan lokasi jatuhnya Beresheet

VIVA – Pesawat ruang angkasa milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), menangkap lokasi kecelakaan pesawat Israel, Beresheet, yang gagal mendarat di Bulan pada April 2019 lalu. Beresheet terlihat seperti menghantam permukaan Bulan.

Dilansir melalui laman The Verge, Kamis, 16 Mei 2019, pada gambar yang dirilis NASA, terlihat wahana luar angkasa tersebut meninggalkan bekas noda gelap sepanjang 10 meter, di mana ia menabrak Bulan dan kemudian hancur. Sebelum jatuh, Beresheet digadang-gadang menjadi pesawat antariksa pertama buatan perusahaan swasta yang mendarat di Bulan. 

Perusahaan swasta itu bernama SpaceIL, yang peluncurannya menumpang roket SpaceX Falcon 9, dua bulan sebelum kecelakaan. Pada upaya pendaratan, seseorang memasukkan perintah ke sistem wahana, yang kemudian direspons dan berakhir dengan matinya mesin utama. 

Akibatnya Baresheet tidak bisa melambat saat melakukan pendaratan. Wahana ini meluncur dengan cepat dan pecah karena benturan. Sebelum jatuh, ia masih sempat mengirim satu gambar dari permukaan bulan. 

11 hari setelah gagal, NASA Lunar Reconnaissance Orbiter lewat di atas permukaan Bulan bekas kecelakaan itu. Sehingga bisa memberi pandangan bagaimana keadaan lokasi setelah hantaman pesawat Israel. 

Baresheet tampaknya tidak membentuk kawah di permukaan Bulan. Kalaupun hal tersebut terjadi, kemungkinan bentuknya sangat kecil dan tidak terdeteksi pesawat ruang angkasa milik NASA. Ada kemungkinan pesawat langsung terhenti ketika membentur daratan. 

Ilmuwan NASA dan peneliti Arizona State University, yang menganalisis gambar tersebut berpikir bahwa saat peristiwa, gas atau partikel menjauh dari lokasi. Jatuhnya Beresheet menyebabkan kerugian yang besar bagi insinyur SpaceIL. 

Namun hikmahnya, peneliti menjadi tahu hal-hal apa yang terjadi di lingkungan Bulan setelah adanya tabrakan. Gambar yang dikirimkan wahana ini, membuat ilmuwan bisa menyaksikan batu dan debu berevolusi secara berkala karena dampak dari kecelakaan.

(ann)

Artikel ini telah tayang di Viva.co.id