Must Read

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...





Jakarta
Basarnas menghentikan operasi pencarian korban jatuhnya Lion Air PK-LQP. Tapi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) tetap melanjutkan pencarian cockpit voice recorder (CVR) black box.

“Tim kami akan tetap mencari black box semampu kami. Kami belum tahu sampai kapan pencarian ini bisa kami lakukan,” ujar Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono di Dermaga JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (10/11/2018).

Meski belum menetapkan batas waktu pencarian black box Lion Air yang jatuh di perairan Karawang, Senin (29/10), KNKT tetap mempertimbangkan biaya pencarian karena sejumlah peralatan yang didatangkan dari luar negeri.

“Salah satunya yang kemarin juga hari Jumat kita on boat-kan pinker yang lebih muktahir dan paling sensitif. Pinker finder ini sudah kita on boat-kan, namun sampai hari ini kita masih belum bisa menemukan posisi CVR atau black box yang satu lagi,” sambungnya.

Kelanjutan pencarian CVR black box juga akan dilengkapi elemen baru dari Remotely Operated Vehicle (ROV). ROV ini ditempatkan di kapal-kapal pencari.

“Jadi nanti kita akan menggunakan kapal, beberapa kapal yang dilengkapi dengan ROV yang lebih besar dan canggih. Ada 4 kamera, dan di ROV akan ada scan sonar, juga yang paling penting di sini ada equipment baru yang di on boat-kan di ROV yaitu sub-bottom profiling yang bisa mendeteksi benda2 di dalam lumpur sampai kedalaman 4 meter,” terang Soerjanto.

Kapal dan peralatan baru yang akan digunakan saat ini berada di Surabaya. Kapal pencarian CVR black box akan bergerak ke Jakarta, Minggu (11/11) atau Senin (12/11).

“Mungkin kalau sekarang dengan FDR saja kita sudah mungkin ya sekitar 70%-80%, hal ini bisa kita ketahui, kita perlu sempurnanya sampai 100% itu penyebab dari kecelakaan itu kita memerlukan CVR,” katanya.

“Karena di CVR ini kita ingin apa yang terjadi di dalam kokpit pesawat, sehingga kita bisa ungkap mengevaluasi dari kecelakaan tersebut. Mungkin itu yang bisa saya sampaikan,” sambungnya.

KNKT saat ini masih menganalisis data dari FDR black box. Sejumlah temuan diungkap hasil investigasi sementara.

Ada temuan Airspeed Indicator Lion Air PK LQP yang rusak dalam empat penerbangan terakhir PK-LQP. Namun temuan itu belum dapat disimpulkan sebagai penyebab kecelakaan JT 610. KNKT melanjutkan penyelidikan.

Termasuk juga kerusakan sensor AOA (angle of attack). AOA adalah pengukur sudut pesawat terhadap aliran udara. Sensor AOA menunjukkan perbedaan pada saat penerbangan sebelum JT 610, yaitu dari Bali ke Jakarta. Dalam penerbangan itu, AOA pesawat PK-LQP sebelah kiri berbeda 20 derajat dengan sebelah kanan.

(fdn/fdn)



Artikel ini telah tayang di detikNews

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...

Ibu Cristiano Ronaldo Kabarnya Dilarikan ke RS Akibat Stroke

Madeira - Kabar kurang menyenangkan datang dari Cristiano...

Ancaman Stigmatisasi di Balik Penyebaran Data Pribadi Pasien Corona

Jakarta - Identitas baik nama, foto maupun alamat lengkap dua pasien yang disebut positif terinfeksi...

Alasan Klopp Tak Mengamuk Ketika Liverpool Kalah

Jakarta, CNN Indonesia -- Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, mengungkapkan alasan tidak selalu marah apalagi mengamuk ketika timnya menderita kekalahan. Klopp yakin para pemainnya bisa kembali tampil...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -