Must Read

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...

VIVA – Anggota Komisi X DPR RI Marlinda Poernomo menyerukan saatnya bangsa ini menghentikan hoaks (berita palsu) dan menggantinya dengan tradisi literasi. Hoaks tidak saja dihentikan saat musim kampanye jelang Pemilu 2019, lebih dari itu, hoaks memang mestinya tak beredar di tengah masyarakat untuk selamanya. Pada masa kampanye ini tak perlu ada yang memanfaatkan informasi hoaks untuk kepentingan politik.

“Ada tradisi yang jauh lebih bermanfaat daripada mengikuti informasi hoaks, yaitu meningkatkan tradisi membaca dan menulis (literasi). Hoaks harus dihentikan tidak hanya karena tahun politik, tapi harus ada upaya berkelanjutan. Sudah saatnya tidak memanfaatkan hoaks untuk kepentingan apapun. Hoaks sangat merugikan bangsa Indonesia,” tutur Marlinda dalam rilis yang diterima Parlementaria, Jumat (14/12/2018).

Saat menggelar pertemuan dengan masyarakat di daerah pemilihannya, Jawa Tengah X, legislator Partai Golkar ini mengaku tak pernah absen mengimbau masyarakat untuk menjauh dari hoaks. Kaum muda yang merupakan anak-anak jaman now juga harus menghindari hoaks. Marlinda melihat, ada korelasi antara suburnya hoaks dengan rendahnya minat baca masyarakat di Indonesia.

Data UNESCO menyebutkan, minat baca di Indonesia hanya 0,001. Artinya, hanya satu orang dari 1.000 orang yang membaca buku. Hasil studi Most Litered Nation in the World yang dilakukan Central Connecticut State University pada Maret 2016, juga mendudukkan Indonesia pada rangking ke-60 dari 61 negara paling rendah minat bacanya. Indonesia berada persis di bawah Thailand (59) dan di atas Bostawa, Afrika (61).

Ia menduga rendahnya minat baca lantaran masyarakat Indonesia lebih suka menggunakan telepon genggam di semua tempat, baik rumah, sekolah, kampus, pusat belanja, restoran, di mobil, bahkan naik motorpun masih sempat menggunakan telepon genggam. 

Kebiasaan masyarakat Indonesia, sambungnya lagi, lebih suka menatap layar telepon genggam hingga berjam-jam daripada menatap buku yang bila dibaca langsung mengantuk. Dengan kata lain, masyarakat Indonesia lebih suka menulis curhat di media sosial  daripada menulis buku. Akhirnya, lebih suka baca hoaks atau menyebarkan hoaks.

“Sudah saatnya pemerintah tegas meredam peredaran hoaks di Indonesia. Di beberapa negara hoaks tidak bisa beredar, seperti Jepang, Tiongkok, dan Filipina. Ujaran kebencian sumbernya dari hoaks. Dan emosi publik yang tersulut dari hoaks mengakibatkan persatuan dan kesatuan bangsa rusak. Kebhinekaan kita pun menjadi rapuh. Ini bukti sila-sila Pancasila belum maksimal diimplementasikan,” imbuhnya lebih lanjut.

Artikel ini telah tayang di Viva.co.id

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...

Ibu Cristiano Ronaldo Kabarnya Dilarikan ke RS Akibat Stroke

Madeira - Kabar kurang menyenangkan datang dari Cristiano...

Ancaman Stigmatisasi di Balik Penyebaran Data Pribadi Pasien Corona

Jakarta - Identitas baik nama, foto maupun alamat lengkap dua pasien yang disebut positif terinfeksi...

Alasan Klopp Tak Mengamuk Ketika Liverpool Kalah

Jakarta, CNN Indonesia -- Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, mengungkapkan alasan tidak selalu marah apalagi mengamuk ketika timnya menderita kekalahan. Klopp yakin para pemainnya bisa kembali tampil...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -