Must Read

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...

Tidak hanya klik dan uang, para content creator perlu mengedepankan adab dan akhlak.

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG – Konten-konten hiburan di berbagai media dan platform, khususnya digital, perlu diiringi tanggung jawab dari para pembuatnya. Apalagi konten yang disiarkan mampu mempengaruhi pola pikir hingga perilaku para audiensnya.

Blogger dan juga komedian Benazio Rizki Putra atau yang biasa diakrab Benakribo mengatakan, setiap content creator (pembuat konten) perlu menyadari tanggung jawab yang diemban dalam menyajikan suatu karya. Apapun bentuknya, kata dia, rasa tanggung jawab harus terus diemban.

“Tanggung jawab itu penting bagi content creator, semua harusnya sadar akan hal ini,” kata Benakribo, di Halal Expo Indonesia (HEI) 2019, ICE BSD, Tangerang, Banten, Ahad (8/12).

Bagian dari tanggung jawab tersebut, lanjutnya, termasuk dari adab dan akhlak dari konten yang diciptakan. Apalagi di era keterbukaan informasi dan media seperti saat ini, setiap orang dapat mengakses secara mudah dan cepat tanpa batasan usia.

Konten hiburan bagi anak-anak bermuatan edukasi juga harus diperbanyak. Sebab, dengan cepatnya arus informasi yang mudah dijangkau siapa pun dan kapan pun, dia menilai, dapat membentuk pola pikir dan laku anak.

Pihaknya juga berpesan kepada semua content creator agar tidak mendahulukan views, likes, dan juga materi sebagai tujuan menciptakan konten. Lebih dari itu, ilmu serta bakat yang dimiliki harusnya dialihkan untuk menciptakan konten yang layak untuk disaksikan oleh kalangan anak-anak. “Jangan mengejar hanya uangnya (dalam membuat konten),” ungkap dia.

Sementara itu, Ustaz Handy Bonny menjelaskan, peran orang tua sangatlah penting pada era digital. Jangan sampai lengah terhadap tontonan, bacaan, atau pun hal yang didengar anak. Meski tidak sampai melarang keras anak mengaksesnya konten-konten positif.

“Karena orang tua zaman sekarang itu enggak mau ribet. Dikit-dikit biar anaknya diam (tidak menangis), dikasih HP (handphone). Tapi sayangnya, ini tanpa pengawasan,” ungkap dia.

Di sisi lain dia juga mengimbau kepada para content creator untuk mencitakan karya-karya yang positif dan bermanfaat. Menurutnya, sebaik-baik orang adalah mereka yang memiliki potensi serta bakat namun mempergunakannya untuk hal-hal positif.

“Sedangkan seburuk-buruknya orang, mereka yang punya potensi dan bakat tapi digunakan untuk hal keburukan. Naudzubillah,” jelasnya.

Artikel ini telah tayang di republika.co.id

- Advertisement -
- Advertisement -

Latest News

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...

Ibu Cristiano Ronaldo Kabarnya Dilarikan ke RS Akibat Stroke

Madeira - Kabar kurang menyenangkan datang dari Cristiano...

Ancaman Stigmatisasi di Balik Penyebaran Data Pribadi Pasien Corona

Jakarta - Identitas baik nama, foto maupun alamat lengkap dua pasien yang disebut positif terinfeksi...

Alasan Klopp Tak Mengamuk Ketika Liverpool Kalah

Jakarta, CNN Indonesia -- Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, mengungkapkan alasan tidak selalu marah apalagi mengamuk ketika timnya menderita kekalahan. Klopp yakin para pemainnya bisa kembali tampil...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -