Must Read

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...

Korban dan pelaku bullying sama-sama membutuhkan penanganan, bentuknya berbeda.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada penanganan berbeda untuk korban dan pelaku perisakan. Psikolog Ratna Djuwita mengatakan, baik korban maupun pelaku bullying usia anak dan remaja harus sama-sama mendapatkan konseling. Terlebih, untuk kasus yang terjadi di sekolah.

“Tidak bisa satu kali dipanggil lantas moralnya berubah, karena berkaitan dengan sikap, kebiasaan, dan banyak faktor lain. Terjadinya karena proses, memperbaikinya juga perlu proses,” ujar dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu.

Ratna menjelaskan, proses tersebut berbeda-beda untuk setiap individu. Pasalnya, ada pelaku perisakan yang baru pertama kali melakukan aksinya, ada pula yang sudah beberapa kali mengulangi. Hal utama yakni menggali motif apa yang membuatnya merisak.

Terdapat banyak pemicu, sehingga tidak ada pakem atau kuantifikasi karena ini berkaitan dengan kondisi psikis manusia. Ratna yang terlibat dalam penelitian tentang perisakan sejak 2004 menjelaskan, agresi pelaku perisakan pun terpicu beragam hal.

Agresivitas terkadang muncul tanpa disadari. Semakin diumbar, kobarannya semakin besar, alih-alih mereda. Bisa jadi, agresivitas akibat berbagai macam rasa frustrasi terlampiaskan kepada korban yang belum tentu berhubungan dengan latar belakang pemicunya.

Sementara, penanganan awal terhadap korban perisakan adalah menghadirkan suasana agar dia bersedia menceritakan apa yang dialami. Ratna mengatakan, sebagian besar remaja korban perisakan enggan membeberkan masalahnya kepada orang lain sehingga semua dipendam sendiri.

Teman-temannya mungkin mengetahui perisakan, tapi menjauhi karena takut terseret menjadi korban. Hendak bercerita di rumah pun takut orang tua akan mempermasalahkan sehingga konflik bertambah gawat. Mustahil pula membalas perilaku agresif pelaku.

“Karena itu penanganan awal adalah membiarkan dia bercerita. Pertolongan pertama terhadap korban perisakan adalah ketika dia merasa masih ada teman untuk bisa curhat,” ujar Ratna yang menulis disertasi mengenai perisakan siswa SMU.

Artikel ini telah tayang di republika.co.id

- Advertisement -
- Advertisement -

Latest News

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...

Ibu Cristiano Ronaldo Kabarnya Dilarikan ke RS Akibat Stroke

Madeira - Kabar kurang menyenangkan datang dari Cristiano...

Ancaman Stigmatisasi di Balik Penyebaran Data Pribadi Pasien Corona

Jakarta - Identitas baik nama, foto maupun alamat lengkap dua pasien yang disebut positif terinfeksi...

Alasan Klopp Tak Mengamuk Ketika Liverpool Kalah

Jakarta, CNN Indonesia -- Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, mengungkapkan alasan tidak selalu marah apalagi mengamuk ketika timnya menderita kekalahan. Klopp yakin para pemainnya bisa kembali tampil...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -