Must Read

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...

VIVA – Media sosial Facebook menggunakan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk memverifikasi konten berita hoax yang tersebar di platform-nya.

Penggunaan teknologi AI ini berkaca dari pengalaman Facebook pada 2016, di mana ‘pihak asing’ memanfaatkan platform milik Mark Zuckerberg ini untuk menyebarkan hoax dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat.

Mengutip situs Techspot, Jumat, 14 September 2018, Manajer Produk Facebook, Antonia Woodford mengatakan, platform-nya melakukan perubahan besar untuk meminimalisasi penyebaran hoax dan ujaran kebencian atau hate speech.

“Kami berjanji untuk menemukan solusi masalah ini. Dari waktu ke waktu, akhirnya kerja keras kami membuahkan hasil. Langkah pertama yang kami ambil adalah bermitra dengan pihak ketiga,” kata Woodford.

Ia juga mengaku akan meninjau dan menilai keakuratan berbagai konten, termasuk gambar teks serta video. Namun, untuk mempercepat prosesnya, Facebook juga dibantu dengan teknologi mesin pembelajaran (machine learning/ML).


Woodford menilai ML akan mengidentifikasi konten yang berpotensi salah secara otomatis. Akan tetapi, AI tidak membuat keputusan final, dan meneruskannya ke salah satu third party fact checker atau mitra Facebook untuk meninjau.

Karena beban kerja yang segera meningkat, Woodford berjanji untuk memperluas program pengecekan fakta untuk foto dan video ke 17 negara di seluruh dunia. Mereka akan bergabung dengan mitra baru di sepanjang prosesnya.

AI yang terlibat dengan Facebook menggunakan ‘engagement signal‘. Kemungkinan besar mesin tersebut menggunakan komentar, bagikan, suka, maupun umpan balik untuk menemukan konten yang dapat berpengaruh untuk dibesar-besarkan atau menyesatkan.

Lalu, fact checker akan menggunakan teknik verifikasi visual, seperti pencarian gambar dan strategi penelitian umum untuk membuat kesimpulan mengenai keakuratan konten tersebut. “Sumber-sumber yang digunakan mitra kami bisa dipercaya, sehingga tidak bergantung sama Wikipedia atau informasi lainnya,” klaim Woodford.

Artikel ini telah tayang di Viva.co.id

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...

Ibu Cristiano Ronaldo Kabarnya Dilarikan ke RS Akibat Stroke

Madeira - Kabar kurang menyenangkan datang dari Cristiano...

Ancaman Stigmatisasi di Balik Penyebaran Data Pribadi Pasien Corona

Jakarta - Identitas baik nama, foto maupun alamat lengkap dua pasien yang disebut positif terinfeksi...

Alasan Klopp Tak Mengamuk Ketika Liverpool Kalah

Jakarta, CNN Indonesia -- Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, mengungkapkan alasan tidak selalu marah apalagi mengamuk ketika timnya menderita kekalahan. Klopp yakin para pemainnya bisa kembali tampil...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -