Must Read

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...

Larangan jilbab secara bertahap dicabut untuk siswa di universitas setelah 2010.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA –  Pengadilan Konstitusional Turki akhirnya memutuskan bahwa larangan berjilbab telah melanggar hak pendidikan dan kebebasan beragama. 

Dilansir di Anadolu Agency, Rabu (12/12), putusan itu dikeluarkan terkait kasus yang diajukan mahasiswi di Universitas Bogazici di Istanbul, Turki. 

Menurut keputusan yang diterbitkan di lembaran resmi pada Selasa lalu, mahasiswi bersangkutan, Sara Akgul, menerima beasiswa dari Departemen Pendidikan antara tahun 2000 dan 2005. 

Namun, sekolah tersebut mengusir Akgul di tahun keempatnya dengan alasan bahwa dia tidak memperbarui pendaftarannya. Kenyataannya adalah dia tidak diizinkan untuk menghadiri kuliah atau tes karena jilbabnya. 

Setelah diberikan amnesti mahasiswa pada 2009, Akgul kembali ke universitasnya dan lulus pada 2012. Namun, tahun itu pula Departemen Pendidikan memproses agar Akgul mengembalikan beasiswa yang telah diberikan kepadanya. 

Pada 2014, Akgul membuat pendaftaran secara individu ke Mahkamah Konstitusi. Hal itu lantaran ia merasa lelah selama beberapa tahun untuk mencari solusi hukum lainnya. 

Pengadilan dengan suara bulat memutuskan bahwa hak pendidikan dan kebebasan beragama dilanggar. Selain itu, disebutkan dalam keputusan pengadilan, bahwa sebuah kasus baru harus didengar untuk menghilangkan pelanggaran dan hasilnya. 

Selanjutnya, pemohon harus membayar sejumlah 20 ribu liras Turki (sekitar 3.700 dolar) untuk kerusakan non-uang.

Larangan jilbab di Turki mulai diterapkan pada 1980-an. Namun, larangan justru menjadi lebih ketat setelah 1997. Larangan jilbab secara bertahap dicabut untuk siswa di universitas setelah 2010. 

Sementara larangan untuk pegawai publik juga dicabut pada  2013. Isu larangan jilbab memegang tempat penting dalam debat publik dan politik selama 1990-an dan 2000-an di Turki.  

Artikel ini telah tayang di republika.co.id/

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...

Ibu Cristiano Ronaldo Kabarnya Dilarikan ke RS Akibat Stroke

Madeira - Kabar kurang menyenangkan datang dari Cristiano...

Ancaman Stigmatisasi di Balik Penyebaran Data Pribadi Pasien Corona

Jakarta - Identitas baik nama, foto maupun alamat lengkap dua pasien yang disebut positif terinfeksi...

Alasan Klopp Tak Mengamuk Ketika Liverpool Kalah

Jakarta, CNN Indonesia -- Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, mengungkapkan alasan tidak selalu marah apalagi mengamuk ketika timnya menderita kekalahan. Klopp yakin para pemainnya bisa kembali tampil...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -