Marak Semburan Dusta Bikin Otak Bingung dan Gagap

Hoax.

VIVA – Maraknya sebaran informasi bohong atau hoax di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Jika terlambat diantisipasi, semburan dusta atau firehose of falsehood, bisa memicu daya rusak yang dahsyat.

Semburan dusta bisa dijinakkan setidaknya melalui tiga cara. Yakni, mengembangkan kecerdasan emosional, mengidentifikasi bias informasi dalam diri, serta mengidentifikasi bahan semburan dusta.

Sadar dengan kondisi tersebut, pakar neurologi Ryu Hasan, menyampaikan bahwa kecerdasan emosional jadi salah satu langkah menangkal semburan dusta.

Menurutnya dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang mampu membangun kapasitas kognisi dan kecerdasan emosional.

Ia mengatakan kecerdasan emosional harus dikedepankan karena otak manusia akan lebih cepat meng-endorse semburan dusta dan ancaman daripada kebenaran dan harapan.

“Informasi semburan dusta sangat banyak. Itu membuat otak kita menjadi kebingungan dan gagap. Akhirnya yang dipercayai adalah hal yang ingin dia percayai. Dia tidak mengafirmasi informasi benar atau salahnya, tapi apa yang sesuai dengan seleranya sendiri,” ujar Ryu, lewat keterangannya, Senin, 17 Juni 2019.

Untuk membangun kecerdasan emosional, kata Ryu, diperlukan waktu yang panjang karena selama puluhan tahun masyarakat lebih mengedepankan kecerdasan kognitif.

Ia menegaskan pesatnya kemajuan teknologi tidak akan menyelesaikan kegagapan masyarakat pada semburan dusta selama tidak dibarengi dengan kecerdasan emosional.

“Kecerdasan emosional itu perlu dikedepankan. Cerdas emosional, sosial, dan kecerdasan ekologikal. Seperti membiasakan orang antre atau membuang sampah pada tempatnya. Itu perlu kecerdasan emosional,” ungkap ahli neuro sains dari Tokyo University Hospital tersebut.

Sementara itu, Ketua Umum Inovator 4.0 Indonesia, Budiman Sudjatmiko menambahkan, semburan dusta tidak boleh dianggap remeh karena jumlah sebarannya tidak terhingga dan bisa disebarkan siapa pun menggunakan berbagai saluran.

“Jika kita merasa tidak akan mengubah apa-apa, kita tak akan menyumbang isi apa-apa untuk masa depan kita. Kita harus wake-up call. Bangun dan bersegeralah mandi,” tutur aktivis kelahiran Cilacap, Jawa Tengah ini.

Artikel ini telah tayang di Viva.co.id

Related Posts