Must Read

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...

Masuknya Gerindra ke koalisi akan semakin memperkuat pemerintah di DPR.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kemungkinan Partai Gerindra bergabung dalam koalisi Pemerintahan Jokowi-Amin semakin menguat pascapertemuan sang ketua umum Prabowo Subianto dengan presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara pada Jumat (11/10) lalu.

Prabowo juga telah bertemu Ketua Umum Nasdem Surya Paloh, yang sebelumnya diketahui menolak adanya partai tambahan di koalisi pemerintahan.

Menurut pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Profesor Siti Zuhro, kemungkinan Gerindra bergabung dengan koalisi pemerintahan tak terlepas dari gagalnya kader Gerindra, Ahmad Muzani, menjabat Ketua MPR RI. Pucuk pimpinan lembaga tinggi negara itu akhirnya diisi oleh kader Golkar, Bambang Soesatyo.

“Atas dasar apa Gerindra cenderung menguat ke arah koalisi. Tidak tertutup kemungkinan karena kalah dalam pemilihan ketua MPR. Itu argumentasinya,” kata Siti ketika dihubungi Republika.co.id, dari Jakarta, Senin (14/10).

Selain itu, jelas Siti, Partai Gerindra juga hanya mendapat kursi wakil ketua DPR. Tentu hal ini akan menjadi alasan kuat Gerindra masuk ke dalam koalisi Jokowi. Kader Gerindra bisa mengisi sejumlah pos kementerian.

“Menurut saya tidak tertutup kemungkinan bergabung, malah kemungkinan besar akan berkoalisi. Gerindra akan memberikan kader-kadernya disana,” ujar Siti.

Sedangkan di pihak partai koalisi pemerintah, terutama dari Presiden Jokowi sendiri, masuknya Gerindra akan membuat pemerintah mendapat dukungan penuh di Senayan. “Gerindra meski tidak sejak awal, tapi ini kan partai yang sangat seksi untuk dirangkul,” ucapnya.

Siti menambahkan, koalisi pemerintahan Jokowi 2019-2024 juga akan menjadi sangat gemuk dengan bergabungnya Partai Demokrat. Sebab ia memprediksi partai besutan Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu memang akan ikut bergabung.

“Pak SBY kan gampang-gampang susah untuk ditebak. Meskipun, condongnya untuk diakomodasi. Tapi dimana tempatnya (jabatan yang diberikan untuk kader Demokrat) itu yang tidak bisa ditebak secara pasti,” terang peneliti senior LIPI itu.

Siti menyimpulkan, bergabungnya sejumlah partai yang tergabung dalam koalisi yang kalah dalam pemilu ke koalisi partai pemenang adalah kekhasan politik Indonesia. Sebab, hal semacam itu sudah terlihat dalam beberapa kali pemilu. “Jadi tidak ada yang bakal nolak jika diajak bergabung dalam pemerintahan,” kata Siti, tegas.

Artikel ini telah tayang di republika.co.id/

- Advertisement -
- Advertisement -

Latest News

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...

Ibu Cristiano Ronaldo Kabarnya Dilarikan ke RS Akibat Stroke

Madeira - Kabar kurang menyenangkan datang dari Cristiano...

Ancaman Stigmatisasi di Balik Penyebaran Data Pribadi Pasien Corona

Jakarta - Identitas baik nama, foto maupun alamat lengkap dua pasien yang disebut positif terinfeksi...

Alasan Klopp Tak Mengamuk Ketika Liverpool Kalah

Jakarta, CNN Indonesia -- Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, mengungkapkan alasan tidak selalu marah apalagi mengamuk ketika timnya menderita kekalahan. Klopp yakin para pemainnya bisa kembali tampil...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -