Nike Tarik Sepatu Desain Awal Bendera AS

Sepatu Nike Air Max 1 yang dirilis bertepatan dengan peringatan 4th of July.

Desain bendera AS di dengan 13 bintang dikaitkan dengan perbudakan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sebuah situs lelang streetwear telah menghapus sepasang sepatu Nike yang kontroversial dari penjualannya. Produk tersebut dianggap tidak mencerminkan nilai yang sesuai denganĀ  perusahaan.

Awal pekan ini, Nike mengumumkan telah membatalkan perilisan sepatu Air Max 1 yang dirancang untuk merayakan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat. Desain dilaporkan ofensif oleh mantan gelandang NFL Colin Kaepernick karena menampilkan versi awal bendera Amerika yang dirancang oleh Betsy Ross.

Desain awal bendera yang menampilkan 13 garis dan 13 bintang sebagai representasi dari koloni AS asli menimbulkan kontroversi. Perbicangan ini karena hubungan bendera tersebut berkaitan dengan perbudakan.

Meskipun dikeluarkan dari penjualan oleh Nike, sepatu ini masih dijual di StockX.com seharga 2.500 dolar AS atau sekitar 20 kali harga eceran produk. Menurut Bloomberg, 67 pembelian untuk sepatu itu telah dilakukan lokasi langsung sebelumnya. Sedangkan 2 Juli, CEO StockX.comĀ  Scott Cutler mengumumkan, situs tersebut telah menghapus penjualan alas kaki tersebut.

“Kami telah memutuskan untuk menghapus Nike Air Max 1 USA dari situs kami hari ini dan melarang penjualan lebih lanjut dari item ini di @StockX karena penjualan produk ini di platform kami tidak selaras dengan sistem nilai kami,” kata Cutler, dikutip dari Independent, Jumat (5/7).

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada tanggal yang sama, Nike mengonfirmasi, perusahaan telah memilih untuk tidak merilis produk pada awal Juli seperti yang direncanakan sebelumnya. Hal itu sehubungan dengan perbincangan di media sosial yang mengungkap makna di balik desain bendera yang digunakan.

Beberapa orang turun ke media sosial untuk menjelaskan sifat ofensif dari bendera “Betsy Ross” yang ditampilkan di sepatu tersebut. “Bendera ‘Betsy Ross’ telah diubah menjadi simbol nasionalisme kulit putih dan ekstremisme,” tulis satu orang di Twitter yang telah mengumpulkan lebih dari 10.000 tanda suka.

Artikel ini telah tayang di republika.co.id

Related Posts