Rangkaian Bunga Persatuan di Istana Negara

Dekorasi Istana untuk 17 Agustus dibuat megah dan meriah tapi tidak berlebihan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Istana Negara sudah sejak beberapa hari lalu bersiap menyambut upacara 17 Agustus. Ratusan orang bekerja menyulap Istana agar kelihatan lebih anggun di hari perayaan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Tahun ini penataan dekorasi Istana Negara terinspirasi dari konsep persatuan negara. Sara Destariansyah, pendiri dan kepala sekolah Jakflo Floral Academy yang ditunjuk Istana sebagai konsultan dekorasi, mengatakan ketegangan politik sejak beberapa bulan terakhir akibat pemilu membuat konsep persatuan dirasa penting.

Kepada Republika.co.id, Sara mengatakan pihak Istana sejak awal ingin dekorasi perayaan proklamasi mengesankan perdamaian. “Mereka ingin konsep yang harmonis, memberi lihat kecantikan Indonesia yang sesungguhnya,” kata Sara.

Indonesia adalah negara yang kaya, dengan variasi kebudayaan, bahasa, begitu juga daun dan bunga-bunganya. Sebagai negara tropis Indonesia memiliki banyak materi dari alam yang bisa dirangkai sebagai ornamen atau dekorasi yang indah.

Keharmonisan Indonesia kemudian coba dituangkan Sara menggunakan warna-warna yang sebelumnya sangat jarang dipakai Istana saat 17-an. Yaitu warga yang agak terang seperti oranye dan kuning.

Istana selama ini lebih sering menggunakan warna-warna kalem yang tidak mencolok. Misalnya merah, putih, dan merah muda.

Ada juga satu hal berbeda yang akan muncul di Istana hari ini. Sebuah gapura Garuda akan menghiasi Istana. Sara mengatakan selama ini penggunaan lambang negara sebagai dekorasi belum pernah dilakukan.

Sara mengatakan seluruh dekorasi mengambil inspirasi kebudayaan dan alam Nusantara. Seperti misalnya bunga standing yang biasanya hanya menggunakan tiang dan kreasi bunga. “Kita buat model pohon kelapa yang tingginya 2,5 meter untuk menghiasi taman-taman Istana Negara. Idenya diambil dari Indonesia sebagai negara maritim yang banyak memiliki pohon kelapa,” katanya.

Ada pula dekorasi menggunakan bambu-bambu yang diambil dari hutan di Jawa Barat. Sara mengatakan, penggunaan bambu mengingatkan pada suasa pedesaan Indonesia yang alami.

Tak ketinggalan rangkaian bunga dalam berbagai bentuk. Rangkaian tersebut dikombinasikan dengan anyaman, bokor antik dari Kuningan, Sumatra, hingga Bali, serta gerabah dari Purwakarta. Termasuk penjor yang dikirim dari perajin di Bali dan dirangkai di Jakarta.

Untuk mimbar kehormatan, atau tempat Presiden Joko Widodo akan duduk bersama Wakil Presiden dan para mantan Presiden Indonesia, tiang-tiang Istana dihiasi bunga yang pilarnya dililit bambu. Sedangkan ornamen yang paling istimewa dikatakan Sara adalah tempat Presiden menyambut tamu dan berfoto bersama. Khusus di sana sejumlah anggrek eksotis Indonesia diletakkan.

“Anggreknya edisi terbatas. Dibawa dari mana-mana, ada yang dari Toba sampai Malang,” katanya.

Sara mengaku tidak membutuhkan waktu lama untuk memikirkan konsep desain. Ia hanya menghabiskan waktu sepekan lebih untuk memikirkan konsep. Yang lama adalah aplikasi desain dengan mempertimbangkan beragam aspek, mulai dari teknis hingga kepastian rangkaian akan tampak bagus dan berhasil dari segi desain.

“Intinya dekorasi Istana itu harus megah dan meriah tanpa terlihat berlebihan,” jelas Sara. Untuk mengerjakan dekorasi Istana sebanyak 162 orang terlibat, 60 orang di antaranya adalah perangkai bunga dan sisanya adalah tenaga konstruksi. Bunga dan daun serta ornamen lain yang digunakan sepenuhnya diambil dari keragaman budaya dan flora Indonesia.

Artikel ini telah tayang di republika.co.id

Related Posts