Must Read

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...

Salah satu yang dibicarakan adalah meningkatnya xenofobia.

REPUBLIKA.CO.ID,  WASHINGTON — Belum lama ini, laman Breitbart mengunggah sebuah video lama yang menampilkan para eksekutif Google dalam sebuah pertemuan. Dalam video yang dibuat pada 2016 lalu itu, para eksekutif Google tampak berbincang dan menyayangkan kemenangan Donald Trump sebagai presiden AS.

Salah satu sosok yang tampak dalam video tersebut adalah Co Founder Google Sergey Brin. Brin menyayangkan kemenangan Trump karena ia menilai Trump tidak sejalan dengan nilai-nilai yang diemban Google. Selain itu, para eksekutif Google juga memuji nilai-nilai yang diusung oleh Partai Demokrat.

Salah satu isu yang dibicarakan oleh para eksekutif Google adalah meningkatnya xenofobia atau ketidaksukaan pada orang-orang dari negara lain yang dianggap asing. Para eksekutif Google juga berbicara mengenai nasionalisme. Pertemuan itu tampak emosional karena beberapa eksekutif Google bahkan terlihat menangis ketika berbicara mengenai pemilu AS.

Menanggapi bocornya video ini ke muka publik, Google pun angkat bicara. Google mengatakan pembicaraan yang terjadi pada pertemuan tersebut, maupun pertemuan-pertemuan lain, sama sekali tidak menunjukkan bahwa cara Google membangun maupun mengoperasikan produknya dipengaruhi oleh bias politik.

“Sebaliknya, pruduk-produk kami dibuat unutk semua orang, dan kami mendesain produk kami dengan perhatian yang besar agar dapat menjadi sumber informasi terpercaya bagi semua orang, tanpa memperhitungkan pandangan politik,” ungkap Google melalui pernyataan resmi, seperti dilansir TIME, Kamis (14/9).

Google secara konsisten selalu menampik kabar mengenai bias politik dalam mengembangkan alogaritma yang mereka gunakan untuk pencarian internet. Namun, Partai Republik dan kelompok konservatif menilai adanya bias liberal di Silicon Valley. Mereka menilai perusahaan seperti Google, Facebook dan Twitter secara aktif menekan pandangan pihak konservatif. 

Artikel ini telah tayang di republika.co.id/

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...

Ibu Cristiano Ronaldo Kabarnya Dilarikan ke RS Akibat Stroke

Madeira - Kabar kurang menyenangkan datang dari Cristiano...

Ancaman Stigmatisasi di Balik Penyebaran Data Pribadi Pasien Corona

Jakarta - Identitas baik nama, foto maupun alamat lengkap dua pasien yang disebut positif terinfeksi...

Alasan Klopp Tak Mengamuk Ketika Liverpool Kalah

Jakarta, CNN Indonesia -- Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, mengungkapkan alasan tidak selalu marah apalagi mengamuk ketika timnya menderita kekalahan. Klopp yakin para pemainnya bisa kembali tampil...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -