Must Read

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...

Data menunjukkan banyak caleg stres pascapemilu.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Andi Nur Aminah*

Kurang dari dua pekan, hajatan akbar pesta demokrasi akan digelar di negeri ini. Berbagai persiapan, terutama yang sudah dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara Pemilu 2019 sudah berjalan. Dari sekian banyak persiapan yang dilakukan KPU sebagai penyelenggara maupun Bawaslu sebagai pengawas, saya tiba-tiba tertarik ingin membicarakan tentang rumah sakit.

Kenapa rumah sakit? Ini terkait dengan pemeriksaan kesehatan para calon legislatif (caleg) yang akan berjuang merebut simpati warga agar memilihnya. Tapi, mungkin sebelum pemilu digelar, mereka akan berusaha sebisa mungkin menghindari rumah sakit. Mereka justru ingin tampil ke publik dengan sehat, gagah perkasa, tegap penuh semangat, cantik dan ceria. Ada banyak yang menjaga stamina dengan mengonsumsi suplemen khusus. Ya, wajar saja, berkampanye menemui warga itu butuh energi yang tak sedikit. Jika tak hati-hati menjaga kesehatan, bisa tumbang.

Tapi, saya lebih tertarik membahas pascapemilu itu digelar. Mungkin, beberapa jam setelah usai penghitungan suara, ada ruang-ruang di rumah sakit yang bakal terisi. Saya bukannya mendoakan. Tapi belajar dari pengalaman saat Pemilu 2014 lalu, ada saja caleg yang perolehan suarannya di luar prediksi, tiba-tiba bergelagat aneh.

Jejak digital itu terlanjur terpahat. Telusuri saja mesin pencari dengan memasukkan kata kunci: caleg stres. Maka akan cukup banyak berita-berita utuh maupun sekadar penggalan tentang caleg stres ini muncul.

Stres terjadi karena harapan tak sesuai kenyataan. Bayangkan, ada caleg yang di satu daerah pemilihannya, hanya mampu meraih 10 suara. Padahal, mungkin ia telah habis-habisan mengorbankan kendaraan, rumah, tanah, atau bahkan berani meminjam uang dalam jumlah besar untuk menjadi ‘modal’. Ada juga yang stres bukan karena tiba-tiba jadi miskin akibat modalnya tak bisa kembali. Ada yang terguncang jiwanya karena merasa dikhianati, tidak didukung dan tidak dipercaya oleh orang-orang sekitarnya.

Jika menelusuri jejak digital itu, kasihan dan ngeri sebetulnya. Di antara mereka ada mengalami stres tingkat tinggi. Berulah aneh, berorasi sendiri keliling kampung, ada yang menyegel sekolah, menutup akses jalan raya, atau menarik bantuan barang yang pernah diberikan. Bahkan ada yang sampai digugat cerai oleh pasangannya, ada yang ingin menjual ginjalnya demi membayar utang, hingga sampai ada yang bunuh diri. Nauzubillahiminzalik.

Menghadapi kemungkinan munculnya jiwa-jiwa yang tak siap mental menghadapi kenyataan, sejumlah rumah sakit di daerah sudah mempersiapkan diri. Mereka menyatakan siap memberikan perawatan dan menyiapkan ruang untuk caleg stres. RSUD Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah misalnya. RSUD ini sudah menyiapkan ruang IGD dengan rawat jalannya dan rawat inap bagi yang membutuhkan.

Selama ini, bangsal khusus untuk merawat pasien sakit jiwa memang sudah ada. Jadi bukan hal baru sebetulnya jika nanti harus merawat caleg yang stres. Kepala Bagian Perawat RSUD Banyumas, Slamet Setiadi, mengatakan, fasilitas khusus bagi kalangan caleg stres sudah disediakan. Antara lain berupa dua ruang perawatan kelas VIP, empat kamar kelas satu, delapan kamar kelas dua, dan 10 tempat tidur untuk rawat inap kelas tiga. “Prinsipnya, semua sarana dan SDM kami persiapkan. Namun kami berharap, seluruh fasilitas itu tidak sampai terpakai,” ujarnya.

Caleg stres yang harus dirawat, nantinya akan disesuaikan dengan jaminan kesehatan dan kemampuan yang dimiliki caleg bersangkutan. Bukan tidak mungkin, seorang caleg yang gagal, akan menjadi miskin karena telah menjual semua harta miliknya untuk membiayai kegiatan kampanye. Jika sebelumnya, dia belum terdaftar sebagai warga miskin lalu tiba-tiba stres dan harus dirawat, lalu bagaimana biayanya? Inilah yang masih tengah dibahas oleh pemerintah setempat agar mereka bisa mendapatkan skema bantuan, misalnya menggunakan jaminan kesehatan daerah.

Selain menyiapkan ruang khusus untuk perawatan caleg stres, tentu saja dokter spesialis kejiwaan telah disiapkan. DI RSUD Purwakarta misalnya, satu ruangan dengan fasilitas tiga tempat tidur telah tersedia. Ditambah dua orang dokter spesialis kejiwaan.

Fasilitas dan SDM memamg sudah disiapkan bagi pasien atau caleg yang tiba-tiba jadi stres dan terganggu jiwanya usai perhelatan Pemilu 2017. Namun harapannya, mudah-mudahan saja memang semua fasilitas itu tidak sampai digunakan. Kalaupun digunakan, jangan sampai harus penuh dan antre. Semoga.

 *) Penulis adalah redaktur republika.co.id

Artikel ini telah tayang di republika.co.id

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...

Ibu Cristiano Ronaldo Kabarnya Dilarikan ke RS Akibat Stroke

Madeira - Kabar kurang menyenangkan datang dari Cristiano...

Ancaman Stigmatisasi di Balik Penyebaran Data Pribadi Pasien Corona

Jakarta - Identitas baik nama, foto maupun alamat lengkap dua pasien yang disebut positif terinfeksi...

Alasan Klopp Tak Mengamuk Ketika Liverpool Kalah

Jakarta, CNN Indonesia -- Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, mengungkapkan alasan tidak selalu marah apalagi mengamuk ketika timnya menderita kekalahan. Klopp yakin para pemainnya bisa kembali tampil...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -