Rute Terpanjang dan Panas Ekstrem





Banyuwangi – Etape II International Tour de Banyuwangi Ijen 2018 menjadi salah satu rute berat bagi peserta. Mereka bakal menjalani jarak terjauh dan panas ekstrem.

Tujuh pebalap rontok di etape I Tour de Banyuwangi Ijen. Hari ini, Kamis (27/9), etape II diikuti 86 pembalap yang start dari dari Stasiun Kalibaru menuju Kantor Pemkab Banyuwangi.

Para pebalap itu akan menempuh jalan raya sepanjang 179,3 km. Rute itu merupakan rute terpanjang dari empat etape yang bakal digelar.


Sepanjang perjalanan yang diperkirakan memakan waktu 4 jam tersebut, para rider akan melewati ruas-ruas jalan lintas kecamatan melalui kawasan perkotaan, perkebunan, persawahan, hingga pedesaan.

“Berbeda dari etape satu yang menyajikan rute menanjak pada 10 KM terakhirnya, etape II ini hanya didominasi rute flat sehingga akan lebih ketat kompetisinya. Ini kesempatan bagi pembalap sprinter untuk mencuri poin,” ujar Chairman Tour de Banyuwangi Ijen, Guntur Priambodo, kepada detikSport, Kamis (27/9/2018).

Diawali dari depan Stasiun Kalibaru, para pembalap akan memasuki area persawahan saat memasuki wilayah Kecamatan Tegalsari. Rider juga melintasi kelokan sungai-sungai di wilayah Kecamatan Bangorejo. Melewati permukiman padat, pasar, perkebunan jati, karet dan tebu di Kecamatan Tegaldlimo. Selanjutnya, para rider akan melalui rute flat menuju finish di depan Kantor Pemkab Banyuwangi.

“Saat start dari Kalibaru, para pebalap akan menikmati udara sejuk dan lansekap Gunung Raung saat melewati perkebunan kopi dan kakao,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat memberangkatkan peserta. Stasiun Kalibaru merupakan salah satu stasiun tertua di Banyuwangi, dibangun sejak jaman penjajahan Belanda.

Kecamatan Kalibaru merupakan kecamatan di ujung barat kabupaten berjuluk The Sunrise of Java ini yang berada di bawah kaki Gunung Raung yang berhawa sejuk.

Kalibaru juga dikenal sebagai sentra kerajinan alat masak berbahan dasar aluminium dan stainless steel. Beragam peralatan masak mulai dandang, wajan, panci, sutil, oven kue, kompor, hingga tudung saji diproduksi oleh warga di salah satu dusun yang dikenal dengan Desa Sayangan.

“Desa Sayangan ini unik karena hampir seluruh warganya berprofesi sebagai pengrajin alat masak dan sudah turun temurun hingga tiga generasi. Potensi inilah yang ingin kami kenalkan dalamnajang ITDBI ini,” kata Anas.



(fem/fem)


Artikel ini telah tayang di detikNews

Related Posts