Saya Belum Menangis Lagi Sejak Olimpiade 2000

Saya Belum Menangis Lagi Sejak Olimpiade 2000

CNN Indonesia | Kamis, 15/08/2019 08:27 WIB

1. Herry IP: Saya Belum Menangis Lagi Sejak Olimpiade 2000

2. Kehebatan Kevin/Marcus, Kebangkitan Ahsan/Hendra

Jakarta, CNN Indonesia — Herry Iman Pierngadi adalah salah satu tokoh penting di balik keberhasilan Indonesia memiliki ganda putra-ganda putra berbakat di dunia badminton dari dekade ke dekade. Herry IP sudah ada di pelatnas sejak 1993 hingga saat ini, meski sempat keluar pada periode 2008-2011.

Jelang Kejuaraan Dunia Badminton 2019, nomor ganda putra kembali jadi andalan untuk meraih gelar juara. Bagi Herry IP, turnamen besar seperti ini adalah sebuah hal biasa untuknya yang sudah berkiprah sebagai pelatih selama tiga dekade.

Bagaimana kisah Herry IP sebagai pelatih. Berikut wawancara CNNIndonesia.com dengan Herry IP:

Sebelum jadi pelatih, anda adalah seorang pemain. Bisa ceritakan karier anda sebagai pemain?

Waktu jadi pemain, saya masuk pelatnas antara tahun 1984 atau 1985. Saat masuk pelatnas, saya berusia 22 tahun. Ketika itu belum ada pelatnas pratama, hanya senior saja. Kami masih berlatih di Hall C.

Saya generasi di bawah Koh Chris dan Liem Swie King. Bila kami ingin berlatih, maka kami harus datang pagi-pagi dan lebih dulu sebelum senior latihan. Begitu senior datang, kami minggir.

Saya tak lama di pelatnas karena terkena sakit kuning. Akhirnya saya keluar dan tidak sampai satu tahun di pelatnas.

Setelah itu saya masih main di tingkat nasional namun tidak masuk lagi ke pelatnas. Saya akhirnya berhenti karena lutut cedera. Sempat coba kembali main, namun kembali cedera lutut kiri.




Saat Herry IP jadi pelatih pelatnas pratama, nomor ganda putra utama masih dipegang Christian Hadinata. (CNN Indonesia/Arby Rahmat Putratama)



Gagal sebagai pemain, lalu langsung memutuskan jadi pelatih?

Sebenarnya sudah tak mau lagi di dunia bulutangkis. Ada teman saya ajak ke Australia, tinggal di rumah dia. Waktu saya di Australia, ada tawaran dari Lius. Akhirnya saya balik ke Jakarta.

Saya ditawari jadi pelatih oleh Lius Pongoh. Waktu itu saya juga anggota klub Tangkas. “Mau gak ngelatih? Karena Tangkas mau buka nomor ganda putra.” Begitu kata Lius waktu itu. Sebelumnya di Tangkas cuma ada pelatih tunggal.

Saya lalu menjawab “Kalau memang dikasih kepercayaan, ya saya coba. Tahun 1989 saya jadi pelatih. Dari situ awal karier saya sebagai pelatih.

Pada awalnya, pengalaman saya sebagai pemain yang dilatih beberapa pelatih saya kombinasikan. Beberapa tahun jadi pelatih saya baru mengikuti penataran pelatih yang diselenggarakan oleh PBSI.




Herry IP mengawali karier sebagai pelatih di klub PB Tangkas. (CNN Indonesia/ Putra Permata Tegar)



Kapan akhirnya anda dipanggil oleh Pelatnas PBSI?

Saya dipanggil pelatnas tahun 1993. Sebelum itu, ada Kejuaraan Dunia Junior di Indonesia. Saya diberi kepercayaan oleh PBSI jadi pelatih ganda putra untuk turnamen itu.

Tony Gunawan, Candra Wijaya, Amon Santoso, Halim Haryanto, Namrih Suroto adalah pemain-pemain yang ada di tim itu. Tony lalu digantikan Sigit Budiarto. Saat itu All Indonesian Final di ganda putra. Dari situ saya dipanggil ke pelatnas pratama. Saya pelatih pratama pertama di pelatnas, memegang pemain-pemain muda.

Saat itu Koh Chris [Christian Hadinata] masih jadi pelatih dan menangani ganda-ganda senior.

Saya lalu naik menggantikan Koh Chris pada 1999. Koh Chris berkata “Kamu gantikan saya, Saya jadi pengurus.”

Pertama kali berangkat All England, Tony/Candra langsung juara All England.

Saat itu saya enggak terlalu merasa beban, karena kami di bawah Korea waktu itu. Sebagai pelatih dan pemain saya adalah underdog.

Setahun berselang, anda mengantar Candra/Tony menjadi juara Olimpiade. Bagaimana kondisi saat itu?

Saat itu, ganda Korea Selatan masih ada di 1-2, ganda Indonesia ada di urutan ke 3-4. Dalam beberapa turnamen, Candra/Tony sering terhenti di semifinal. Setelah kalah di semifinal All England, kami lakukan evaluasi dan persiapan kami ubah.

Saya melihat Candra/Tony kalah di tenaga karena ganda Korea besar-besar sedangkan untuk teknik, ganda Indonesia tidak kalah. Saya melakukan perubahan latihan dengan menggunakan raket squash.




Candra Wijaya/Tony Gunawan berhasil jadi juara Olimpiade Sydney 2000. (AFP PHOTO/Robyn BECK)



Selain itu saya buat billboard dengan wajah ganda Korea. Jadi walau Candra/Tony lelah, karena di depan mereka ada ‘wajah’ musuh, maka mereka lanjutkan terus.

Apa yang dirasakan setelah membawa Candra/Tony juara Olimpiade?

Saya merasa jalan ini sudah jadi pilihan, dunia saya dunia bulutangkis. Saya sudah jadi pelatih, tak bisa lari ke hal lain, skill dan ilmu saya sudah ada di sini.

Jenuh pasti ada dan tinggal saya pintar mengatur waktu, antara rekreasi dengan keluarga. Saya juga kebetulan punya hobi, bila jenuh saya main burung.

Periode pertama anda di pelatnas sampai 2008. Apa yang terjadi?

Saya keluar dari pelatnas jelang Olimpiade. Saat persiapan saya masih ikut, namun tidak berangkat. Waktu itu saya sudah menyiapkan Markis Kido/Hendra Setiawan.

Kido bilang ke pengurus bahwa dia tidak cocok dilatih oleh saya. Saya kemudian tanya, alasannya apa. Menurut saya, tiap orang tak ada yang sempurna, itu saja. Menurut saya, karena dia mau menaikkan Sigit Pamungkas.

Kenapa tak melatih negara lain begitu keluar dari pelatnas?

Saat itu ada tawaran dari Malaysia namun saya belum tertarik karena saya ingin melupakan bulutangkis. Saya tidak siap menghadapi situasi saat itu. Bila melihat prestasi, apapun pekerjaan kita, yang dilihat hasil kerja.

Selain itu, saya masih belum kepikiran untuk keluar. Selama saya masih bisa di Indonesia, kenapa harus di luar. Kecuali bila sudah tak dipakai. Saat ditawari Malaysia, masih belum gencar, saya bilang pikir-pikir dulu.

Saat itu anak saya masih kecil. Istilahnya saya masih bisa cari uang di Jakarta.

Lalu setelah kembali ke pelatnas Cipayung pada 2011, bagaimana awal proses pembentukan duet Ahsan/Hendra?

Hendra mengutarakan ke Aryono [Miranat] lebih dulu di Kejuaraan Swiss Open.

Saat tiba di kamar, Aryono bilang “Her, kalau Hendra mau masuk pelatnas lagi, elu masih mau gak?”

“Kenapa dia mau balik lagi? Ya sudah suruh ketemu gua aja.” Begitu kata saya waktu itu.

Esok harinya, Hendra bertemu saya di stadion dan ia berkata,”Koh mau ngomong.”

Saya bilang mau ngomong apa, padahal saya sudah tahu. Saat itu, pertanyaan pertama Hendra saya tidak bakal lupa.

“Menurut Koh Herry, saya masih bisa prestasi gak?”




Hendra Setiawan memutuskan kembali ke pelatnas Cipayung pada 2012. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)



Saya bilang masih bisa, Hendra masih mampu.

“Gimana kalau saya masuk pelatnas lagi?”

Ya udah lu atur aja, ikut latihan sama saya. Kamu urusin urusan sama Kido dan Sigit, saya bantu berbicara dengan pengurus.

Setelah pulang, saya bicara dengan Koh Chris. Koh Chris bilang kalau saya mau, silahkan. Kemudian berbicara dengan Pak Yacob, kemudian membantu berbicara dengan Pak Joko.

Kabar terakhir, Kido sama Sigit mau masuk pelatnas lagi. Saya cuma bilang ‘terserah PBSI, kalau pilih sana [Kido dan Sigit], saya keluar’

Kalau pilih saya, saya tetap di sini. Saya tak mau masuk lubang dua kali. Istilah kasarnya, saya tak mau dikhianati lagi.

Koh Chris bilang tetap pilih saya. Sambil berjalan, saya pertemukan Ahsan dengan Hendra. Hendra pemain depan, Ahsan pemain belakang.

Kami butuh waktu, butuh proses. Salah satu tantangan saya, saya ingin buktikan pada PBSI bahwa pengurus mengeluarkan saya itu sebagai keputusan yang salah.

2013 juara dunia. Ini hasil kerja saya, saya mau membuktikan bahwa saya bisa melatih.

Lalu bagaimana hubungan Anda dengan Kido dan Sigit Pamungkas saat ini?

Soal itu (2008) sudah saya lupakan. Kita tentu tidak boleh dendam. (ptr/har)

1 dari 2

BERIKUTNYA
Kehebatan Kevin/Marcus, Kebangkitan Ahsan/Hendra

Artikel ini telah tayang di CNN Indonesia

Related Posts