Seberapa Penting Suara Ulama Bagi 01 dan 02 – VIVA

0
22 views

Kubu pasangan calon presiden-calon wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menuding pasangan Joko Widodo-Ma`ruf Amin berupaya menggembosi basis suara mereka dengan menetapkan Ketua Umum Persaudaraan Alumni (PA) 212, Slamet Ma`arif sebagai tersangka.

Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Andre Rosiade, menyebut penetapan tersangka itu sangat janggal lantaran juru bicara FPI tersebut tidak mengajak masyarakat memilih Prabowo.

Selain itu, dalam ceramahnya di acara Tablig Akbar 212 Solo Raya di Gladak, Kecamatan Pasar Kliwon, Slamet Ma`rif tidak menyampaikan visi dan misi Prabowo-Sandiaga.

“Jadi agak membingungkan dan agak janggal. Kenapa ustad Slamet Ma`rif ditetapkan tersangka? Bahwa hukum ini terindikasi hanya tajam kepada pendukung Prabowo, tapi tumpul kepada Jokowi,” ujar juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Andre Rosiade, kepada BBC News Indonesia, Senin (11/02).

Dia lantas membandingkan sikap lunak dan keberpihakan kepolisian terhadap para pendukung Jokowi-Ma`ruf Amin, semisal 10 kepala daerah di Riau yang mendeklarasikan dukungan terhadap pasangan nomor urut 01 pada akhir Desember lalu.

Hanya saja, kata Andre, Sentra penegakan hukum terpadu (Gakkumdu) yang terdiri dari Bawaslu, Kepolisian, dan Kejaksaan, menyatakan tidak ada unsur pelanggaran pidana pemilu.

“Bayangkan bupati, walikota, banyak deklarasi mendukung Jokowi tapi tidak diberi sanksi, aman-aman saja. Tapi Kepala Desa Sampangagung langsung masuk penjara karena mendukung Prabowo-Sandi. Jadi kita ini objektif sajalah,” sambungnya.

Menjawab sangkaan itu, juru bicara Tim Kemenangan Nasional (TKN) Jokowi-Ma`ruf, Abdul Kadir Karding, menyanggahnya. Menurut dia, Bawaslu merupakan lembaga independen yang tidak bisa diintervensi.

“Bawaslu itu nggak bisa diatur. Lagipula, kubu sebelah itu apapun judulnya pasti disebut kriminalisasi. Jadi jangan segala hal disalahkan ke orang lain dong. Ini kan hukum dan bisa dibuktikan di pengadilan. Polisi juga transparan dalam menersangkakan seseorang,” jelasnya.

Untuk itu, kata Andre, Tim Advokasi BPN Prabowo-Sandi bakal memberikan bantuan pengacara kepada Slamet Ma`arif.

“Kami akan bekerja keras dengan segenap upaya untuk melakukan advokasi dan pembelaan kepada ustad Slamet Ma`arif.”

Dalam catatan Tim BPN Prabowo-Sandiaga, setidaknya ada dua ulama pendukung capres ini yang dianggap diperlakukan tidak adil.

Sebelumnya Rizieq Shihab yang dikenai pasal pornografi dan penistaan lambang negara. Tapi polisi akhirnya menghentikan penyidikan kasus tersebut lantaran tak ada cukup bukti. Hanya saja hingga saat ini pimpinan FPI itu tak bisa kunjung kembali ke Indonesia.

Ada pula Bahar bin Smith yang telah berstatus tersangka karena kasus penganiayaan terhadap anak. Polda Jawa Barat pun mengenakan lima pasal sekaligus terhadap Bahar dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.

Sementara kasus yang menimpa Slamet Ma`arif bermula dari ceramahnya di Tabligh Akbar Persaudaraan Alumni 212 di Solo Raya, Surakarta, pada Sabtu (13/01) lalu. Dalam ceramahnya, Slamet menyinggung soal 2019 Ganti Presiden.

“Pencekalan di mana-mana, dari bandara, terminal, stasiun. Kita ngaji ada yang panik, tabligh akbar panik, takut ada pengajian akbar,” kata Slamet kepada para jemaah yang hadir di Bundaran Gladak.

Meski banyak pelarangan, Slamet saat itu meminta agar jemaah tidak takut. “Kita tidak takut. Semakin teguhkan hati perjuangan agar 2019 ganti presiden!” katanya kepada jemaah yang disambut teriakan “Prabowo”.

Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi -Ma`ruf Amin menganggap orasi itu bermuatan kampanye dan mengadukannya ke Bawaslu Solo pada Kamis (17/02). Bawaslu kemudian memeriksa sejumlah saksi dan barang bukti, termasuk memanggil Slamet Ma`rif. Namun ia membantah jika orasinya dikaitkan dengan kampanye.

Karena ada dugaan pidana pemilu, Bawaslu melaporkan kasus tersebut ke Polresta Surakarta. Slamet Ma`rif lalu dicecar 50 pertanyaan lebih dan ditetapkan sebagai tersangka karena diduga melakukan kampanye di luar jadwal yang telah ditetapkan oleh KPU.

Selain ditetapkan sebagai tersangka, beberapa pentolan Persaudaraan Alumni (PA) 212 akhirnya memilih menyeberang ke kubu Jokowi. Sebut saja Ma`ruf Amin yang kini menjadi cawapres Jokowi dan Kapitra Ampera sebagai calon legislatif dari PDI Perjuangan.

Meski dalam kondisi seperti itu, Andre Rosiade meyakini dukungan dari kalangan Islam tak berkurang. Ia bahkan mengaku akan mendekati ulama-ulama lain agar mendukung Prabowo-Sandiaga.

“Kita akan terus bekerja keras mendekati masyarakat dan seluruh ulama, kyai, dan tokoh agama lain untuk bersama memenangkan Pilpres,” ujarnya sembari mengklaim pakta integritas yang dihasilkan forum Ijtima Ulama II menjadi bukti masih besarnya sokongan para tokoh Islam.

Berebut suara ulama

Baik kubu Jokowi-Ma`ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga disebut sama-sama mengincar ceruk dukungan suara dari kalangan Islam. Caranya dengan mendekati para ulama. Dalam hitungan Lembaga Survei Indikator, jumlah pemilih dari kalangan Muslim sebesar 87,5%

Peneliti dari Lembaga Survei Indikator, Adam Kamil, mengatakan para ulama sangat berpengaruh dalam menarik suara pengikutnya. Sebab mereka dikenal sangat dekat dengan basisnya.

“Dibandingkan kedekatan antara capres dengan pemilih umum yang sangat jauh, ulama itu pengaruhnya sangat efektif. Karena mereka ini lebih dekat hubungan sosialnya dengan pemilih,” ujar Adam Kamil kepada BBC News Indonesia.

“Tapi persoalan sejauhmana efeknya itu, sulit diukur. Karena jumlah ulama kan tidak banyak dibanding total populasi umat Islam ya,” sambungnya.

Dari pengamatannya, wilayah yang mayoritas Muslim berada di Jawa, Sumatera, Papua Barat, dan Sulawesi Utara.

Juru bicara Tim Kemenangan Nasional (TKN) Jokowi-Ma`ruf, Abdul Kadir Karding, mengklaim telah mengantongi 70% suara ulama di seluruh Indonesia.

Dia menyebutkan Jaringan Alumni Mesir Indonesia (JAMI); ulama dan Kyai se-Madura yang tergabung dalam Himpunan Lora Madura (Hilma); ulama dan santri asal Kota Tasikmalaya; ulama dan santri dari Pondok Pesantren Al Miftahussaadah, Kabupaten Garut.

Menurutnya, dukungan dari Jaringan Alumni Mesir Indonesia kepada pasangan nomor urut 01 dilandasi figur Jokowi dan Ma`ruf Amin yang moderat.

“Saya kira dukungan ini sesuatu yang luar biasa. Karena selain mereka ini orang-orang intelek, alim, berilmu, tapi rata-rata memiliki pengaruh yang besar.”

Meski suara para ulama di Pulau Jawa diklaim telah dipegang, tapi beberapa daerah di Sumatera masih jeblok. Namun begitu, ia membantah jika dikatakan gencarnya kubu Jokowi-Ma`ruf Amin menggaet dukungan ulama mengikuti pola kubu lawan.

“Sejak awal itu, Jokowi sudah ada perhatian terhadap kelompok-kelompok keagamaan, cuma tidak terekspos. Karena kami tidak mau membangun narasi-narasi agama. Di Indonesia kan, riskan kalau membangun narasi agama, apalagi politik identitas kita bangun, khawatir ada efek lanjutan setelah Pilpres,” ujar Abdul Kadir Karding.

Hal lain, menurut dia, kedekatan Jokowi dengan ulama ini diharapkan bisa menjawab kabar bohong yang menyebut bekas Gubernur DKI Jakarta itu keturunan Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Sebab kebohongan itu dipercaya sebagai kebenaran. Survei internal kami menyebutkan bahwa narasi bohong-bohong yang dibangun itu dipercaya masyarakat. Kalau kita tidak jawab, kan repot,” imbuhnya.

Di pihak lain, Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Andre Rosiade, mengklaim sokongan suara dari kalangan ulama untuk pasangan nomor 02 tak surut meski beberapa pentolan Persaudaraan Alumni (PA) 212 tersandung kasus hukum dan berpindah ke kubu lawan.

Justru, kata dia, dukungan umat Islam akan makin solid dengan adanya kasus yang menimpa Rizieq Shibab, Bahar bin Smith, dan Slamet Ma`arif.

” Gimana nggak solid, ulama mereka dikriminalisasi, dipersekusi. Umat makin solid dukung Prabowo-Sandi. Sebab umat itu tidak diam, tidak tidur. Silent majority yang akan menentukan perubahan,” tukasnya.

Artikel ini telah tayang di Viva.co.id

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here