Selain Seru, Permainan Imajinatif Bermanfaat untuk Anak

Selain Seru, Permainan Imajinatif Bermanfaat untuk Anak

Permainan imajinatif melatih kemampuan anak memecahkan masalah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bermain rumah-rumahan hingga masak-masakan merupakan hal yang sangat umum dilakukan anak-anak. Dalam permainan ini anak-anak bisa berimajinasi dengan bebas menjadi apa pun yang mereka mau, misalnya menjadi dokter atau menjadi koki.

Permainan imajinatif seperti ini memang lumrah dilakukan anak-anak, khususnya ketika anak memasuki usia tiga-lima tahun. Namun permainan imajinatif biasanya mulai muncul ketika anak memasuki usia 18 bulan.

“Semakin kompleks dan sering dilakukan ketika anak berusia tiga tahun. Anak mengembangkan ketertarikan pada dunia orang dewasa dan ingin menjadi bagian dari dunia tersebut,” ujar psikolog pendidikan sekaligus pendiri Rumah Dandelion Binky Paramitha dalam diskusi The Power of Play bersama Early Learning Centre, di Jakarta.

Permainan imajinatif seperti ini ternyata tak hanya membawa keseruan tersendiri, tetapi juga manfaat bagi tumbuh kembang anak. Ketika anak melakukan permainan imajinatif, anak-anak akan menciptakan suatu situasi yang akan mereka gunakan untuk bermain. Misalnya menciptakan situasi jual-beli atau situasi rumah sakit.

Setelah menciptakan situasi, anak-anak akan memilih dan memainkan peran yang mereka inginkan. Contohnya, anak pura-pura berperan sebagai dokter dan ibu berperan sebagai pasien.

Permainan peran ini dapat memberi kesempatan bagi anak untuk menambah informasi dan kosa kata baru. Misalnya, sang ibu yang berpura-pura menjadi pasien datang dengan keluhan perut kembung. Anak-anak yang tidka memahami apa itu perut kembung akan meminta penjelasan lebih lanjut dari sang ibu.

“Nanti dijelaskan sama mama, apa itu kembung. Anak bisa mengerti itu karena bermain,” lanjut Binky.

Ketika melakukan permainan imajinatif bersama teman-teman sebaya, anak juga akan belajar menciptakan dan menaati aturan. Misalnya, A boleh memerankan peran sebagai koki selama lima menit dan B akan berperan sebagai pembeli. Setelah lima menit berlalu, B yang mendapatkan kesempatan untuk menjadi koki.

Dari permainan imajinatif, Binky mengatakan setidaknya ada tiga manfaat yang bisa dirasakan dan didapatkan oleh anak-anak. Ketiga manfaat ini meliputi manfaat terhadap kemampuan kognitif, bahasa dan sosial emosional anak.

Terkait kemampuan kognitif, permainan imajinatif akan melatih anak untuk berpikir simbolik sekaligus melatih kemampuan anak memecahkan masalah. Misalnya ketika anak berpura-pur menjadi montir, anak akan berpikir bagaimana cara mengatasi masalah mobil mogok.

Terkait kemampuan bahasa, permainan imajinatif dapat membantu anak menambah kosa kata baru sekaligus mengasah pola komunikasi anak. Dalam hal ini, orang tua berperan untuk memperkenalkan istilah-istilah baru kepada anak sambil bermain.

Secara sosial emosional, permainan imajinatif akan melatih kemampuan anak berempati. Dengan memainkan peran atau karakter tertentu, anak akan dilatih bisa menempatkan diri sebagai orang lain. Kemampuan mengikuti instruksi dan kontrol diri anak pun akan lebih terasah karena saat bermain permainan imajinatif bersama teman, anak akan belajar untuk saling mendengarkan dan memberikan kesempatan.

“Kalau main sendiri kan suka-suka dia. Kalau sama orang lain, main imajinasi harus bergantian, dia mau jadi apa, teman mau jadi apa, jadi belajar kontrol diri,” ujar Binky.

Artikel ini telah tayang di republika.co.id