Must Read

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...

VIVA – Ngomong-ngomong soal polusi udara di perkotaan, ternyata sopir taksi merupakan kelompok yang paling banyak terpapar polusi lho

Lha kok bisa ya? Kan sopir taksi di dalam kendaraan dan terlindungi dari paparan polusi udara. Ternyata anggapan itu salah menurut studi peneliti King’s College London, Inggris dan Queen Mary University, London. 

Studi itu menunjukkan, rata-rata pengemudi profesional terpapar 4,1 mikrogram karbon hitam per meter kubik udara atau ?g/m3, saat menyopir. Angka tersebut, empat kali lebih tinggi dibanding paparan karbon hitam saat pengemudi itu berada di rumah yang mana angkanya cuma 1,1 ?g/m3. 

Dikutip dari situs News Medical, Senin 30 September 2019, peneliti mengatakan, tingkat paparan di rumah sama dengan tingkat paparan pekerja kantoran. Sedangkan paparan sopir taksi profesional terlihat berisiko bahaya, sebab kerap kali menyentuh 100 ?g/m3 dan cuma sepanjang setengah jam saja berkendara. 

Kalau rata-rata paparan polusi udara sopir profesional itu adalah 1,1 ?g/m3, maka pengemudi taksi punya tingkat paparan paling tinggi dengan rata-rata mencapai 6,5 ?g/m3. Sedangkan pekerja gawat darurat punya tingkat polusi yang paling rendah yaitu rata-rata 2,8 ?g/m3.   

Dalam penelitian ini, peneliti melibatkan 140 sopir profesional dari berbagai pekerjaan di pusat kota London. Responden diminta untuk memasang pemantau karbon hitam yang dikaitkan dengan pelacak GPS selama 96 jam. 

Pemantau itu mengukur tingkat paparan tiap menit. Sopir dalam penelitian ini juga ditanyakan jenis kendaraan yang mereka kendarai, jam kerja dan apakah jendela mobil terbuka atau tertutup saat berkendara. 

“Studi kami menunjukkan pengemudi profesional terpapar polusi tingkat tinggi saat bekerja, Berada di dalam kendaraan kamu tak selalu terlindungi malah sebaliknya, artinya polusi udara bisa terperangkap di dalam kendaraan dalam jangka waktu lama,” ujar asisten peneliti dan kandidat doktor di King’s College London, Shanon Lim yang terlibat dalam riset tersebut. 

Lim menuturkan tak tahu pasti kenapa sopir taksi punya tingkat paparan polusi terburuk. Dia menduga risiko itu karena taksi cenderung beroperasi di bagian area tersibuk kota dan area paling tercemar di kota.

“Selain itu kondisi jalanan di pusat kota membatasi pergerakan udara,” ujar Lim. 

Penelitian menunjukkan, menjaga jendela mobil tertutup saat bekerja mengurangi separuh tingkat karbon hitam untuk pengemudi profesional. Jenis kendaraan dan pilihan rute juga dapat menurunkan paparan. 

Dari temuan itu, peneliti menimbang penggunaan filter udara dan bakal berdiskusi dengan pengusaha untuk mengurangi risiko bagi pekerja.

Artikel ini telah tayang di Viva.co.id

- Advertisement -
- Advertisement -

Latest News

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...

Ibu Cristiano Ronaldo Kabarnya Dilarikan ke RS Akibat Stroke

Madeira - Kabar kurang menyenangkan datang dari Cristiano...

Ancaman Stigmatisasi di Balik Penyebaran Data Pribadi Pasien Corona

Jakarta - Identitas baik nama, foto maupun alamat lengkap dua pasien yang disebut positif terinfeksi...

Alasan Klopp Tak Mengamuk Ketika Liverpool Kalah

Jakarta, CNN Indonesia -- Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, mengungkapkan alasan tidak selalu marah apalagi mengamuk ketika timnya menderita kekalahan. Klopp yakin para pemainnya bisa kembali tampil...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -