Must Read

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...

Kemurahan hati sebuah kelompok akan memengaruhi mentalitas sesama.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Berbuat baik kepada orang lain akan menghasilkan kebaikan lainnya. Konsep tersebut telah dibuktikan melalui penelitian yang telah terbit dalam jurnal Current Biology.

Studi tersebut menemukan naluri manusia untuk berbagi sudah sangat tua. Konsep berbagai pun ternyata terikat pada perilaku meniru.

Bukti baru tersebut didapatkan dari studi yang telah berjalan selama enam tahun tentang pemburu Hadza. Peneliti mengumpulkan orang-orang di Tanzania, dan orang pada umumnya bersedia untuk berbagi yang berpikir itu tidak berarti mereka akan selalu melakukannya.

Peneliti mengunjungi 56 kamp di Tanzania selama enam tahun dan melihat sekitar 400 orang dewasa dan cara mereka merespons setelah diminta untuk bermain gim. Permainan biasanya dimainkan dengan meminta orang untuk memutuskan apakah akan berbagi uang dengan kelompok atau menyimpannya hanya untuk diri mereka sendiri. Namun, para peneliti meminta mereka mempertimbangkan berbagi madu yang merupakan makanan favorit mereka.

Hasil penelitian menunjukkan, madu yang diberikan kepada kelompok menjadi tiga kali lipat. Bukti ini menunjukkan individu berperilaku berbeda dari waktu ke waktu dan menjadi lebih atau kurang murah hati tergantung pada kelompok mereka bersama.

Seseorang yang memutuskan untuk berbagi tidak tergantung pada individu. Justru orang tersebut melihat dari kelompok yang mereka tinggali saat itu. Hasil itu menunjukkan mentalitas kawanan banyak hubungannya dengan kemurahan hati.

“Kami menemukan tahun demi tahun, kesediaan untuk berbagi dengan orang lain dalam satu kelompok dalam kelompok tempat tinggal atau apa yang kami sebut ‘kamp’,” kata penulis utama studi dari University of Pennsylvania Coren Apicella, dikutip dari Indy100, Senin (24/9).

Orang-orang hidup dengan orang lain yang mirip dengan mereka dalam tingkat kemurahan hati. Dengan cara itu sifat berbagi pun tertular antar anggota kelompok tersebut.

“Kami juga menemukan kesediaan individu untuk berbagi berubah dari tahun ke tahun untuk mencocokkan teman kamp mereka saat ini dan tidak menemukan bukti orang lebih suka tinggal dengan orang yang lebih kooperatif,” kata rekan penulis studi Kristopher Smith.

Tren-tren itu tetap konsisten bahkan ketika orang-orang Hadza mengubah teman-teman satu kamp setiap beberapa bulan. Salah satu peneliti pada proyek tersebut Ibrahim Mabulla mengungkapkan,  Hadza adalah salah satu populasi terakhir yang tersisa di planet ini yang menjalani gaya hidup yang sama dengan bagaimana nenek moyang hidup selama jutaan tahun.

Artikel ini telah tayang di republika.co.id

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Elektabilitas Prabowo-Anies Tinggi, Cocok Jadi Capres-Cawapres

VIVA – Nama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan semakin populer. Berdasarkan berbagai hasil survei, Prabowo dan Sandi memiliki elektabilitas tinggi dalam...

Ibu Cristiano Ronaldo Kabarnya Dilarikan ke RS Akibat Stroke

Madeira - Kabar kurang menyenangkan datang dari Cristiano...

Ancaman Stigmatisasi di Balik Penyebaran Data Pribadi Pasien Corona

Jakarta - Identitas baik nama, foto maupun alamat lengkap dua pasien yang disebut positif terinfeksi...

Alasan Klopp Tak Mengamuk Ketika Liverpool Kalah

Jakarta, CNN Indonesia -- Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, mengungkapkan alasan tidak selalu marah apalagi mengamuk ketika timnya menderita kekalahan. Klopp yakin para pemainnya bisa kembali tampil...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -