Terlalu Banyak Main Gawai Ganggu Kestabilan Mental Remaja

Terlalu Banyak Main Gawai Ganggu Kestabilan Mental Remaja

Remaja yang lekat dengan gawai memiliki pribadi yang sulit konsentrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Anak-anak dan remaja yang menghabiskan waktu tujuh jam atau lebih per hari di depan layar gawai cenderung lebih mudah mengalami gangguan mental. Di antaranya depresi dan rasa cemas berlebihan. 

Kesimpulan itu terungkap dalam dalam studi yang dimuat di jurnal Preventive Medicine Reports. Time yang mengutip laporan itu pada Senin (29/10) menyebut studi dilakukan pada 40 ribu anak. Mereka berusia dua hingga 17 tahun dan merupakan bagian dari Census Bureau’s 2016 National Survey of Children’s Health.

Kebiasaan menatap layar gawai dalam waktu lama umumnya dilakukan oleh anak-anak berusia 14 sampai 17 tahun. Sebanyak 20 persen responden pada rentang usia itu mengaku terbiasa menggunakan gawai tujuh jam atau lebih dalam sehari. Durasi mengoperasikan gawai di sekolah tidak termasuk dalam hitungan tersebut. 

Dari hasil studi, orang-orang muda yang lekat dengan gawai ini ternyata menjadi pribadi yang konsentrasinya gampang terpecah. Selain itu, emosinya kurang stabil dan punya lebih banyak kendala dalam mengerjakan sebuah tugas. Mereka juga cenderung lebih banyak masalah ketika menjalin pertemanan.

Kondisi sebaliknya ditemukan pada remaja yang rata-rata hanya menghabiskan satu jam per hari dengan gawai. Di sisi lain, anak-anak yang belum menginjak usia remaja ternyata mengalami dampak bermain gawai yang lebih kecil daripada remaja. 

“Aku terkejut ketika mengetahui bahwa efek gawai pada remaja lebih besar daripada pada anak-anak,” kata Jean Twenge selaku peneliti dan profesor bidang psikologi di San Diego State University. 

“Akan tetapi remaja lebih banyak menghabiskan waktunya di ponsel dan sosial medianya. Dari hasil penelitian lain kita tahu aktivitas tersebut lebih kuat pengaruhnya pada kesehatan daripada menonton TV atau video,” jelasnya. 

Selama bertahun-tahun Twenge meneliti dampak teknologi digital terhadap kesehatan anak muda dan dituangkan dalam buku berjudul iGen. Penelitian terbarunya memperlihatkan kecanduan smartphone juga menyebabkan gangguan tidur pada remaja.

Dia juga menemukan anak-anak yang terlalu banyak bermain gawai cenderung kurang bahagia daripada anak-anak yang jauh dari gawai. Twenge menyatakan anak-anak yang berolah raga, membaca media cetak, atau bersosialisasi dengan teman sebaya secara langsung lebih bahagia. Dari temuannya ini, Twenge berharap otoritas seperti American Academy of Pediatrics atau akademi dokter anak Amerika mulai memikirkan rekomendasi pembatasan durasi bermain gawai bagi anak-anak.

Artikel ini telah tayang di republika.co.id

Related Posts