Tompi Paparkan Tren Bedah Plastik di Pria

Penyanyi dan dokter bedah plastik, Tompi.

Tompi menyukai bedah plastik dengan mempertahankan karakter pasien.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dokter bedah plastik sekaligus penyanyi jazz Tompi mengungkapkan facial rescontruction atau rekonstruksi wajah masih menjadi tren di kalangan wanita. Salah satunya adalah operasi bedah plastik di bagian hidung.

“Terus yang lain-lain ada liposuction, mata. Kemudian perawatan non-bedah yang sekarang bisa bikin semua kerutan hilang, kerutan kasar sampai halus,” ujar Tompi usai acara peluncuran MEN/O/LOGY by ZAP di Kota Kasablanka, Jakarta, beberapa waktu.

Untuk laki-laki, kata Tompi, tren bedah plastiknya lebih ke body contour dan liposuction. “Liposuction daerah payudara, kan ada yang besar kalau laki-laki. Liposuction dari pinggang atau perut depan itu juga yang paling sering kita kerjakan,” katanya.

Tompi mengungkapkan pasien terkadang selalu datang dengan referensi gambar-gambar yang cantik dan tampan dari Instagram atau majalah. Tapi sebenarnya ada hal yang dilupakan.

Banyak orang beranggapan dengan mengoperasi satu bagian dari wajah, kata Tompi, akan berubah menjadi seperti tokoh referensinya. Padahal yang sama hanyalah bagian yang dioperasi saja.

Selanjutnya pun orang lain terkadang lupa, foto yang ada di Instagram dan majalah tidak setampan dan secantik rupa aslinya. Sebab, foto bisa diedit dengan aplikasi foto.

Tompi tidak pernah menjadikan model wajah orang sebagai acuan. Tetapi, ia hanya menyesuaikan dasar muka yang dimiliki oleh pasien.

“Kalau orang ingin konsultasi, saya harus datang, kita ngobrol kalau kayak gini bagaiman (dilihat dari berbagai sisi)” ujarnya.

Sisi lain, Tompi mengungkapkan perbedaan filosofi dokter bedah Indonesia dan dokter bedah Korea Selatan dalam melakukan operasi bedah plastik. Kebanyakan dokter bedah plastik Korea Selatan menggunakan ukuran-ukuran yang dianggap ideal.

Contohnya, ukuran jarak mata, ukuran hidung dan lain sebagainya. Dokter Korea akan mengoperasi mendekati ukuran itu bagaimanapun bentuk muka pasien, sehingga wajahnya mirip semua.

Sedangkan Tompi lebih pada membuat apa yang sudah ada di wajah pasien menjadi lebih baik lagi.

“Kalau saya cenderung pertahankan karakternya, tinggal disesuaikan apa yang kira-kira bisa bikin kelihatan lebih keren. Jadi tidak perlu berubah semuanya. Kalau nggak, nanti nggak punya karakter lagi,” katanya.

Artikel ini telah tayang di republika.co.id

Related Posts