Wahai Ahli Hisap, Vape Bakal ‘Kudeta’ Rokok Kretek

Ilustrasi vape.

VIVA – Revolusi industri 4.0 merupakan sebuah lompatan besar bagi seluruh sektor melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Tak hanya dari segi produksi, namun juga keseluruhan rantai nilai untuk mencapai efisiensi yang optimal sehingga melahirkan model bisnis baru berbasis digital.

Adapun lima teknologi utama yang menopang implementasi industri 4.0 adalah Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), Human–Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing.

Meski begitu, ada pula risiko yang akan muncul di era digitalisasi ini, seperti berkurangnya sumber daya manusia (SDM) karena perannya diganti oleh mesin atau robot. Fenomena ini, pelan tapi pasti, mulai berimbas ke industri rokok Tanah Air.

Berdasarkan data Maybank Kim Eng, kemunculan rokok elektrik (e-cigarette), termasuk vape, dalam tiga tahun terakhir di Indonesia harus diwaspadai oleh pelaku industri rokok kretek.

“Meskipun kami masih percaya rokok kretek mendominasi industri rokok Indonesia untuk beberapa waktu ke depan, namun masuknya rokok elektrik ini makin menjepit rokok kretek, setelah sebelumnya oleh rokok putih atau filter, khususnya di kota-kota besar,” kata salah satu analis Maybank Kim Eng, Janni Asman, seperti dikutip dari Business Times, Rabu, 17 Juli 2019.

Dua merek rokok elektrik asal Amerika Serikat yang sudah masuk pasar Indonesia adalah Juul dan iQOS. Ancaman keberadaan rokok elektrik ini pun diakui oleh sosiolog dari Universitas Airlangga, Umar Salahudin.

Ia khawatir jika industri rokok di Tanah Air dikuasai oleh satu atau dua perusahaan rokok berskala internasional, atau yang dikenal dengan oligopoli.

Menurut Umar, perlahan tapi pasti, perusahaan multinasional ini akan mengganti teknologi-teknologi pembuatan rokok kretek, dari yang padat karya menjadi padat  teknologi.

Akibatnya akan semakin banyak tenaga kerja di industri rokok dan tembakau yang semakin kehilangan pekerjaan.

“Modernisasi ini akan mengurangi penggunaan tenaga kerja. Industri rokok kita, kan, padat karya alias menggunakan banyak tenaga kerja. Kalau modernisasi dilakukan dipastikan akan mengurangi kesempatan kerja bagi masyarakat pekerja industri hasil tembakau di berbagai daerah,” kata dia, lewat keterangannya.

Umar juga menjelaskan bahwa munculnya rokok elektrik akan mengurangi pemakaian tembakau. Tak ayal, hasil panen para petani tembakau akan semakin susah terserap.

“Kita tahu semua rokok kretek bagian dari budaya dan kebiasaan di Indonesia, termasuk industri itu sendiri. Apapun kebijakan yang dihasilkan pemerintah mengenai rokok dan tembakau harusnya untuk melindungi masyarakat Indonesia, bukan sebaliknya,” tutur dia.

Menurut data Statista, industri rokok Indonesia diperkirakan akan memperoleh pendapatan US$24,1 miliar pada tahun ini, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 4,8 persen (ann)

Artikel ini telah tayang di Viva.co.id

Related Posts